Aside

KEBENARAN, LOGIKA DAN TEORI PENGETAHUAN

PENDAHULUAN
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin dan konflik psikologis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang selalu ditunjukkan oleh kebenaran.

Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian, terutama oleh hati nurani merupakan puncak kesadaran manusia. Hal ini bukan saja karena sumber kebenaran itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah satu subyek dengan integritas kepribadian. Nilai kebenaran agama menduduki status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas kepribadian. Seluruh tingkat pengalaman, yakni pengalaman ilmiah, dan pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang didalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk dijalankan oleh manusia.
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

PEMBAHASAN
A.Pengertian Kebenaran Dan Tingkatannya
Dalam kehidupan manusia, kebenaran adalah fungsi rohaniah. Manusia di dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tanpa kebenaran. Berdasarkan potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:
1.Tingkatan kebenaran indera adalah tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia
2.Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera, diolah pula dengan rasio
3.Tingkat filosofis, rasio dan pikiran murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4.Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Keempat tingkat kebenaran ini berbeda-beda wujud, sifat dan kualitasnya bahkan juga proses dan cara terjadinya, disamping potensi subyek yang menyadarinya. Potensi subyek yang dimaksud disini ialah aspek kepribadian yang menangkap kebenaran itu. Misalnya pada tingkat kebenaran indera, potensi subyek yang menangkapnya ialah panca indra. Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan, fungsi rohaniah. Manusia selalu mencari kebenaran itu, membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya.
•Ukuran Kebenarannya :
– Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran
– Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain
– Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran
•Jenis-jenis Kebenaran :
– Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan)
– Kebenaran Ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/diadakan)
– Kebenaran Semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)

B.Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat
1.Teori Corespondence
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita obyek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi) sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.
Teori korespondensi (corespondence theory of truth) menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang selaras dengan realitas yang serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang diperlukan yaitu :
1. Pernyataan (statement)
2. Persesuaian (agreemant)
3. Situasi (situation)
4. Kenyataan (realitas)
5. Putusan (judgements)
Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran dengan kenyataan). Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya Plato, Aristoteles dan Moore dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina, Thomas Aquinas di abad skolatik, serta oleh Berrand Russel pada abad modren.
Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran meniru korespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya.
Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai dengan nilai-nilai moral itu. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standard atau asas normatif bagi tingkah laku. Apa yang ada di dalam subyek (ide, kesan) termasuk tingkah laku harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek (realita, obyek, nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar.
2.Teori Consistency
Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap reliable jika kesan-kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. Apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide, kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek, pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khususnya di dalam bidang pengukuran pendidikan.
Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedangkan teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran.
3.Teori Koherensi (the coherence theory of truth)
Teori koherensi menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Rumusan kebenaran adalah truth is a sistematis coherence dan truth is consistency. Jika A = B dan B = C maka A = C.
Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis. Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.
4.Teori Pragmatisme
Pragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik sebagai metode project atau metode problem solving di dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar jika mereka mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia di dalam keseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Dalam dunia pendidikan, suatu teori akan benar jika ia membuat segala sesuatu menjadi lebih jelas dan mampu mengembalikan kelangsungan pengajaran, jika tidak, teori ini salah. Jika teori itu praktis, mampu memecahkan problem secara tepat barulah teori itu benar. Yang dapat secara efektif memecahkan masalah itulah teori yang benar (kebenaran).
Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yang memuaskan (satis faktor consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya.
Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan
2. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen
3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsuf Amerika tokohnya adalah Charles S. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859). Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsekuensi, pada hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsekuensi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri, melainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teory Dewey bukanlah mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). Melainkan mengerti segala sesuatu sesuai dengan praktek yang ada di dalam program solving.

C.Pengertian Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

D.Dasar-Dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif kadang disebut logika deduktif. Deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
•Setiap mamalia punya sebuah jantung
•Semua kuda adalah mamalia
•Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif kadang disebut logika induktif. Induktif adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
•Kuda Sumba punya sebuah jantung
•Kuda Amerika punya sebuah jantung
•Kuda Inggris punya sebuah jantung
•Setiap kuda punya sebuah jantung

E.Macam-Macam Logika
1.Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.
2.Logika ilmiah
Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

F.Kegunaan Logika
1.Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
2.Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3.Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4.Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5.Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan, serta kesesatan.
6.Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7.Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.

G.Teori Pengetahuan
Teori pengetahuan sebenarnya adalah salah satu cabang dari struktur filsafat, selain teori hakikat dan teori nilai. Teori pengetahuan ini membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan. Sehingga lebih banyak berbicara tentang hakikat pengetahuan, cara berpikir, dan hukum berpikir yang mana harus dipergunakan agar kita mendapatkan hasil pemikiran yang kemungkinan benarnya lebih besar. Teori pengetahuan terbagi menjadi:
a.Empirisme
John Locke, seorang bapak empirisme dari Britania mengatakan bahwa manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis buku catatan yang kosong. Didalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman indrawi. Dan lebih lanjut lagi John Locke mengatakan, seluruh sisa pengetahuan kita peroleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana itu. Singkat cerita, pengetahuan yang didapat dengan empirisme ini lebih banyak dikarenakan pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui, seberapa rumitnya pengetahuan dapat dilacak dengan pengalaman-pengalaman indrawi.
b.Rasionalisme
Rasio berarti akal. Rasionalisme berarti suatu paham dimana sumber pengetahuan berasal dari akal. Rene descartes, bapak rasionalisme berusaha menemukan kebenaran yang tidak dapat diragukan, sehingga memakai metode deduktif (kesimpulan ditarik dari premis-premis umum) untuk menyimpulkan pengetahuan. Seorang rasionalis tentunya mengakui bahwa kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh kesimpulan-kesimpulan yang jumlahnya sama banyaknya dengan kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh premis-premis yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan tersebut. Dan seorang rasionalis pastilah memandang pengalaman sebagai salah satu alat bantu dari akal, karena menurutnya pengetahuan berasal dari akal pikiran.
c.Fenomenalisme
Fenomenalisme adalah sebuah paham untuk mencari pengetahuan berdasarkan gejala yang terjadi. Seorang Immanuel Kant, bapak fenomenalisme membuat uraian tentang pengalaman, bahwa sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Dan karena itu pula, seorang fenomenalis tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu yang terjadi seperti keadaannya sendiri, melaikna hanya tentang sesuatu yang menampak, dan inilah yang disebut dengan gejala.
Immanuel Kant mengemukakan tentang fenomenalis, karena mengkritik salah seorang pemikir yang mengkritik sumber ilmu pengetahuan berasal dari hal yang bersifat empiris dan rasional. Karena menurut Kant, seorang empirisme benar apabila pengetahuan didasarkan pada pengalaman, meskipun hanya sebagian dan seorang rasionalis juga benar, karena akalnya memaksakan bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d.Instuisionisme
Intuisi adalah hal yang bersifat alamiah, pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis dan memberikan kepada kita keseluruhan yang bersahaja, yang mutlak tanpa suatu ungkapan, teremahan atau deskripsi secara simbolis. Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.
Menurut Henry Bergson,filsuf asal Prancis, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Seorang instuisif memperoleh pengetahuan dengan cara mengetahui beberapa bagian dari suatu peristiwa namun tidak mengalami keseluruhannya.
e.Metode Ilmiah
Ada suatu perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat, jikalau ilmu membicarakan kenyaataan yang sebenarnya, maka filsafat bicara tentang bagimana cara memperoleh jawaban. Sehingga munculah metode ilmiah sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Metode ilmiah dimulai dengan pengamatan-pengamatan dan berakhir dengan pengamatan pula. Sehingga pengamatan adalah hal yang pasti terukur.
Dalam metode ilmiah ini kita akan mengenal sebuah hipotesa. Hipotesa berarti usulan penyelesaian yang berupa saran dan sebagai sebuah konsekuensi yang harus dipandang sementara dan memerlukan verifikasi dan biasanya akan memungkinkan adanya sejumlah saran. Dalam prosesi menemukan hipotesa, dikatakan bahwa kegiatan akal bergerak keluar dari penglaman yang ada, mencari bentuk, dan didalamnya terdapat fakta-fakta yang telah diketahui dalam menyusun kerangka tertentu. Dan berharap bahwa fakta-fakta yang dikumpulkan cocok dengan hipotesa yang dibangun (proses verifikasi). Ramalan terhadap hipotesa dimulai dengan ramalan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis, dan dengan sengaja terhadap ramalan-ramalan yang disimpulkan dari hipotesa tersebut.

SIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Dalam kehidupan manusia kebenaran adalah fungsi rohaniah. Jenis-jenis kebenaran adalah kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan), kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/ diadakan) dan kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata). Ada banyak teori kebenaran menurut filsafat diantaranya yaitu teori korespondensi, teori konsistensi, teori koherensi dan teori pragmatisme.
Logika sangat berperan penting dalam kehidupan manusia diantaranya untuk berfikir secara rasional dan kritis, meningkatkan kemampuan berfikir, mendorong orang berfikir menurut azas dan meningkatkan cinta akan kebenaran. Jika dikaitkan, kebenaran, logika dan pengetahuan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Kaitan ketiganya membuat mereka sulit untuk terpisahkan. Sama halnya dengan kebenaran, pengetahuan juga memiliki teori yaitu empirisme, rasionalisme, fenomenalisme, instuisionisme dan metode ilmiah.

B.Saran
1.Perlunya kajian lebih dalam bagi pembaca tentang kebenaran, logika dan pengetahuan karena ketiga hal ini tidak terlepas bagi kehidupan manusia.
2.Perlunya referensi yang memadai jika ingin menganalisa hal yang sama (bagi peneliti lain)

DAFTAR PUSTAKA
Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Kebenaran, Logika dan Pengetahuan. Jakarta
Hendrik jan Rapar. 1996. Pengantar Logika, Asas-Asas Penalaran Sistematis. Jakarta: Kanisius
Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Surip Muhammad, Mursini. 2010. Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan Dalam Berfikir Kritis. Medan: Citra Pustaka

KEBENARAN, LOGIKA DAN TEORI PENGETAHUAN

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s