KONSEP HIDUP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU


PENDAHULUAN

Konsep kehidupan manusia tentunya adalah mencari kehidupan yang lebih baik. Kehidupan secara lebih baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupannya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk dibentuk atau diarahkan. Pembentukan manusia itu dapat melalui pendidikan atau ilmu yang mempengaruhi pengetahuan tentang diri dan dunianya, melalui kehidupan sosial atau polis, dan melalui agama. Konsep kehidupan ini tentunya tidak terlepas dari filsafat. Salah satunya filsafat ilmu. Filsafat ilmu memberikan perspektif yang berbeda dalam kehidupan yakni hidup yang lebih bijaksana dan lebih kritis.

Dalam paper ini saya akan membahas tentang konsep hidup manusia dalam perspektif filsafat ilmu. Dengan kata lain, konteks filsafat ilmu sebagai ilmu tentang konsep kehidupan manusia akan lebih disempitkan atau dibatasi pada kerangka berpikir pembentukan manusia yang lebih baik. Segala sesuatu tentang pandangan filsafat terhadap manusia memperoleh ilmu pengetahuan, konsep rasio dan rasa dalam kehidupan manusia, sarana berfikir ilmiah yang tentunya dipergunakan manusia, dan teori nilai. Semua bahasan ini termasuk dalam kajian filsafat ilmu. Filsafat bukanlah ilmu positif seperti fisika, kimia, biologi, tetapi filsafat adalah ilmu kritis yang otonom di luar ilmu-ilmu positif. Hal itulah yang coba saya angkat dalam paper saya kali ini.

Pengetahuan menjadi unsur yang penting dalam usaha membentuk manusia yang lebih baik. Dengan pengetahuan yang memadai manusia dapat mengembangkan diri dan hidupnya. Apa yang diketahui secara lebih umum dalam pengetahuan, dalam ilmu diketahui secara lebih masuk akal. Dalam hal ini ilmu lebih kritis daripada hanya menerima apa yang didapat dari pengetahuan. Sekalipun demikian saya megangkat pengetahuan untuk memahami hidup manusia dan secara kritis dilihat oleh ilmu. Pengetahuan yang dimaksud di sini lebih pada pengetahuan manusia tentang diri sendiri dan dunianya. Ketika manusia mengetahui dan mengenal dirinya secara penuh, ia akan hidup secara lebih sempurna dan lebih baik dalam dunia yang adalah dunianya. Berkaitan dengan itu manusia juga membutuhkan pengetahuan tentang lingkungan atau dunianya. Dengan pengetahuan yang ia miliki tentang dunia atau lingkungannya, manusia dapat mengadaptasikan dirinya secara cepat dan lebih mudah.

PEMBAHASAN

A.SEKILAS TENTANG FILSAFAT ILMU
Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005). Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa).

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong pra-ilmiah. Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi). Dengan lain perkataan pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji kebenaran (validitas) ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang pra-ilmiah, walaupun sesungguhnya diperoleh secara sadar dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian, pengetahuan pra-ilmiah karena tidak diperoleh secara sistematis-metodologis ada yang cenderung menyebutnya sebagai pengetahuan “naluriah”.

Untuk menetapkan dasar pemahaman tentang filsafat ilmu tersebut, sangat bermanfaat menyimak empat titik pandang dalam filsafat ilmu, yaitu:
1.Bahwa filsafat ilmu adalah perumusan world view yang konsisten dengan teori teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, adalah merupakan tugas filsuf ilmu untuk mengelaborasi imphkasi yang lebih luas dari ilmu
2.Bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari pre-supposition dan pre disposition dari Para ilmuwan.
3.Bahwa filsafat ilmu adalah suatu disiplin ilmu yang didalamnya terdapat konsep konsep dan teori teori tentang ilmu yang dianalisis dan diklasifikasikan
4.Bahwa filsafat ilmu merupakan suatu patokan tingkat kedua. Filsafat ilmu menuntut jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan sebagai berikut:
a.Karakteristik karakteristik apa yang membedakan penyelidikan ilmiah dan tipe penyelidikan lain?
b.Kondisi yang bagaimana yang patut dituruti oleh Para ilmuwan dalam penyelidikan alam?
c.Kondisi yang bagaimana, yang harus dicapai bagi suatu penjelasan ilmiah agar menjadi benar?
d.Status kognitif yang bagaimana dari prinsip prinsip dan hukum hukum ilmiah
Objek kajian filsafat ilmu ada 3 macam, yaitu :
a.Ontologi
b.Epistemologi
c.Aksiologi

B.MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
John Wild dalam tesisnya mengungkapkan uraiannya tentang manusia dengan menunjukkan hakekat rangkap yang dipunyai manusia. Apabila orang memperhatikan dirinya sendiri atau manusia lain, ia akan menyadari terdapat segi fisik dan segi yang tidak bersifat material, yang bersifat akali.

Manusia adalah makhluk yang bersifat material, terbukti dari keadaan dirinya yang terkena oleh perubahan dan individuasi. Selain dari itu, manusia, individu, mempunyai kualitas-kualitas fisik, seperti bangun tubuh, warna , bobot, dan menempati ruang dan waktu bersama-sama dengan segala sesuatu yang lain yang bereksistensi dan terdapat di alam.Manusia merupakan makhluk yang memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Kajian tentang manusia sering dilihat dari eksistensi dan aktivitasnya. Berbagai pengertian atau konsep manusia diberikan oleh berbagai ahli dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan sudut pandang mereka. Ada yang mengartikan manusia sebagai makhluk jasmani yang tersusun dari bahan material dari dunia organik. Pengertian lainnya adalah manusia sebagai benda/sosok atau organisma hidup yang menyatukan jasmani. Dengan demikian manusia juga memiliki kesadaran inderawi.
Pemahaman terhadap manusia juga tidak terlepas dari aktivitas kehidupannya. Untuk memahami ini, manusia harus dilihat dari sudut manusia itu sendiri. Manusia memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang terkadang membuat manusia tidak tergantung pada benda-benda yang ada di sekelilingnya. Dengan kehidupan spiritual ini mampu menggantikan peranan benda-benda atau oleh Lorenz Bagus disebutkan mampu menembus inti yang paling dalam dari benda-benda, menembusi eksistensi sebagai eksistensi dan pada akhirnya menembusi dasar terakhir dari eksistensi yang terbatas sehingga menghasilkan eksistensi absolute (mutlak). Dengan demikian manusia bergerak malampui seluruh batas-batas menuju ke arah yang tidak terbatas sehingga manusia diposisikan sebagai makhluk tertinggi dari segala makhluk hidup di dunia.

Manusia adalah makhluk yang bebas dan terikat. Suatu paradoks. Kepastian tentang kebebasan diperoleh dengan mengintensifkan kehadiran pada diri sendiri. Manusia secara spontan pun tahu tentang kebebasan karena ia hadir pada dirinya sendiri yang bertindak. Manusia bebas untuk memilih sekaligus secara kodrati terdorong untuk menuju diri yang sejati. “Jadilah diri yang sejati”. Inilah seruan yang mengikat tiap manusia secara etis. Seruan itu bersifat paradoksal. Seruan dihayati sebagai suatu keharusan, namun harus dilaksanakan secara bebas.

Secara negatif kata “bebas” berarti tidak ada paksaan. Paksaan bisa menyangkut fisik, psikologis, sosial, histories, dan sebagainya. Semua faktor tersebut ikut menentukan kelakuan manusia. Jika faktor-faktor itu menentukan kelakuan secara menyeluruh, maka tindakan tidak lagi disebut bebas. Inti dan hakikat kebebasan ialah bahwa penentuan datang dari diriku sendiri. Maka, hakikat kebebasan adalah penentuan diri (self determination).

Manusia mempunyai tiga aspek yang berbeda dengan binatang: terikat pada indera, pada bahasa, dan pada praksis.
•Indera
Pengetahuan indrawi pada manusia tidak berbeda dari pengetahuan indrawi hewan.
Kenyataannya sungguh berbeda. Pengetahuan sensitif/inderawi menekankan fakta bahwa pengetahuan manusia memiliki komponen atau dimensi sensitif/inderawi. Pengetahuan intelektif menekankan fakta bahwa pengetahuan manusia yang sama “merasionalisasikan” atau “mengkonsepkan” kenyataan.
•Bahasa
Bahasa memungkinkan manusia yang diajak bicara menjadi lebih dekat dengan apa yang dibicarakan.
•Praksis
Kebenaran tertentu tak bisa diperoleh di luar praksis: kita harus mempraktekkan suatu kebenaran untuk menangkap implikasinya dan untuk membuat kemajuan. Hal tersebut berlaku dalam pengetahuan alam ilmiah, dimana perkembangannya sangat ditentukan oleh kemajuan teknik.

C.KONSEP KEHIDUPAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU
1.Manusia dan Pengetahuan
Sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya, manusia diberi oleh Tuhan kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu akal dan daya nalar. Kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar itu dimungkinkan pada manusia karena ia memiliki susunan otak yang paling sempurna dibandingkan dengan otak berbagai jenis makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu terus berusaha untuk menambah dan mengumpulkan llmu pengetahuannya.

Ilmu pengetahuan yang didapatkan adalah untuk memelihara bumi ini dari segala kerusakan, karena manusia diutus untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dari pengalaman yang didapatkannya (empiris) dan juga logika yang mereka miliki (rasional) dari pengalaman tersebut manusia terus-terusan mengolahnya dengan cara berpikir sehingga menghasilkan suatu ilmu pengetahuan. Manusia yang cerdas akan mampu menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola muka bumi ini. Namun, tidak selamanya pengetahuan yang diperoleh manusia ini bermanfaat, ada juga pengetahuan yang ternyata menimbulkan suatu permasalahan ataupun mudarat.

Di dalam Islam, orang-orang yang berilmu dan beriman akan mendapat martabat yang tinggi di sisi Allah swt, kekayaan terbesar dalam islam adalah pengetahuan dan hikmah maka doa yang dimintakan Allah agar kita mohonkan kepada-Nya ialah untuk menambah pengetahuan. Oleh karena itu, dalam Islam menuntut ilmu hukumnya wajib sehingga dapat menyebarluaskan ilmu tersebut kepada orang lain. Di dalam hidup agar dapat membuat keputusan yang benar juga harus diiringi dengan pengetahuan sehingga terwujud kehidupan yang baik. Pengelolaan sumber daya alam juga harus diiringi dengan pengetahuan yang memadai untuk pemanfaatan yang benar dan sebagai pengelola bumi yang baik harus tak henti-hentinya belajar, karena ilmu pengetahuan itu berubah. Ada yang ternyata salah dan harus dibuang dan ada pula yang harus ditambahkan.

Kemampuan manusia dalam mengembangkan pengetahuan tidak lepas dari kemampuan menalar. Manusia satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan. Namun pengetahuan ini terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival). Manusia mengembangkan pengetahuan bukan hanya sekadar untuk kelangsungan hidup, tetapi dengan memikirkan hal-hal baru manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, dengan kata lain semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekadar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi.

Pengetahuan mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu yang disebut penalaran. Kedua hal inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya. Manusia berpikir karena memiliki akal. Manusia memiliki kemampuan untuk membuat dan mengambil keputusan. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Manusia dapat mengambil keputusan terletak pada kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar, sedangkan kemampuan berpikir dan bernalar itu dimungkinkan pada manusia karena ia memiliki susunan otak yang paling sederhana dibanding dengan otak berbagai Jenis makhlik hidup lainnya. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang baru. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, maka kegiatan berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itupun berbeda-beda karena masing-masing mempunyai yang disebut dengan kriteria kebenaran yang merupakan suatu proses penemuan kebenaran tersebut. Manusia berpikir dan bernalar untuk mengumpulkan pengetahuan yang tersembunyi di alam raya ini. Proses mengumpulkan pengetahuan merupakan suatu proses belajar yang dialami manusia sejak ia lahir hingga ke liang lahat. Kemudian pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akalnya disusun menjadi suatu bentuk yang berpola.

Dengan berpikir, manusia berkesempatan mendapatkan pendidikan membentuk sistem kekeluargaan yang akhirnya terbentuk manusia yang cerdas sehingga dapat bermasyarakat dengan baik. Tanpa kecerdasan yang bersumber dari kemampuan berpikir, manusia tidak mampu menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Jika berpikir dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan pengetahuan dan juga ilmu. Namun disini terdapat perbedaan antara ilmu dan juga pengetahuan yang didapatkan oleh manusia.

Pengetahuan adalah suatu hasil dari pengamatan dan juga pengalaman yang dirasakan oleh panca indra, sehingga kita menjadi tahu dan bagian dari pengetahuan adalah ilmu. Ilmu adalah hasil dari proses berpikir dengan pertanyaan “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” dengan pertanyaan itu maka manusia akan berusaha untuk melakukan sebuah penelitian sehingga akan mendapatkan kesimpulan atau dengan kata lain ilmu adalah pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu. Akibatnya adalah bahwa teori-teori kelimuan tidak merupakan kebenaran yang pasti. Apa yang mampu dilakukan ilmu, dan apa yang sebenarnya memang dilakukan ilmu, semuanya hanyalah bersifat kemungkinan (peluang). Ilmu memberi kita tambahan terhadap uraian gejala yang diamati, pernyataan yang bersifat peluang.
2.Implikasi Rasio dan Rasa dalam Kehidupan Manusia
2.1.Proses Pengembangan Rasio dan Rasa
Pemisahan diri sendiri merupakan suatu proses yang luar biasa sulit dan pahit. Belajar berkaca kepada diri sendiri, melihat keburukan diri sendiri, kecacatan yang dimiliki oleh diri sendiri, kemudian belajar mengakui bahwa diri ini tidak sempurna. Hal ini merupakan perjalanan yang panjang dan tidak sederhana. Benih-benih kerapuhan mulai datang dan menghantui. Kegamangan atas pengenalan diri sendiri yang selama ini bernilai tinggi mulai perlahan dipertanyakan oleh satu pribadi. Perasaan ditinggal oleh suatu lingkungan yang dibangun oleh diri sendiri mulai timbul. Pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang dilakukan, diimpikan dan ingin dicapai mulai timbul disertai dengan kritikan pedas terhadap diri sendiri. Menggoyahkan kepercayaan diri sendiri. Membangun benteng baru yang pada akhirnya harus dihancurkan oleh diri sendiri. Kompleksitas rasio dan rasa. Siklus detoksivikasi oleh diri sendiri dan lingkungan. Terus berputar dan hanya diakhiri dengan rem usia. Saat menutup mata, saat siklus berakhir, benih siklus baru yang telah disebar tumbuh sesuai pupuk yang kerap ditabur.
Saat bergumul dengan kenaikan tingkat atau level penuaan, seluruh kompleksitas dan siklus yang ada terasa kian menunjukkan diri. Sejenak, kelumpuhan fisik menyerang. Hanya otak yang terus berputar dalam putaran awan yang itu-itu saja. Namun kreativitas dan target mimpi menjadi remnya. Fokus menjadi obat penawarnya. Saat semua membaur. Kemampuan untuk mengalah pada galaknya visi dan kehendak, menjadi jawaban atas semua pertanyaan. Saat semua terlihat berbayang, rasa mulai limbung, rasio dan hikmat menjadi penunjuk jalan. Jika jalan ini menghadapi kebuntuan, pasti ada jalan lain, mari mencarinya. Mulai dari awal jika memang itu perlu.
2.2. Hubungan Rasio dan Rasa dalam Kehidupan Manusia
Salah satu ciri atau sifat manusia adalah keingintahuannya terhadap apa yang ditanggapi oleh panca indera, terutama indera penglihatan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah diberi potensi melalui rasio (potensi akal) dan rasa (kalbu). Rasio adalah kemampuan manusia yang bertumpu pada akal, menolak sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan akaliah (logika). Soewardi (1999: 275) mengemukakan ilmu rasio atau nomotetikal berlandaskan hukum-hukum sebab-akibat:sebab akibat ini juga disebut kausalitas. Kausalitas adalah keperilakuan jagat raya dan juga keperilakuan manusia. Kausalitas disebut pulasunnatullah, ketetapan Tuhan sebagaimana telah dijelmakan di jagat raya. Sunnatullah merupakan ketetapan yang abadi, yang menjadi pegangan bagi manusia dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Misalnya, hubungan kausalitas dapat terlihat pada kenyataan yang ada di sekitar kita, ada asap pasti ada api, jika air dipanaskan akan menguap, dan kayu kering akan terbakar jika dikenai api. Segala sesuatunya selalu ada hubungan kausalitas. Akan tetapi, bagaimana cara mengambil suatu simpulan mengenai suatu kenyataan yang tidak selalu memiliki hubungan kausalitas, misalnya Nabi Ibrahim a.s yang dibakar dengan api, tetapi tidak terbakar hangus, melainkan merasa sejuk saat dibakar. Di sini dapat terlihat keterbatasan manusia di sisi-Nya. Ini disebabkan oleh kemampuan manusia yang dapat disketsa dengan satu tanda titik kecil, sedangkan jagat raya sangat luas. Sulit sekali untuk mengungkap setiap rahasia jagat raya dengan keterbatasan pada diri manusia.
Dalam perkembangannya rasio selalu mendominasi dalam perkembangan pengetahuan sains. Pengetahuan sains merupakan suatu hal yang rasional dan empiris. Sesuatu dapat dikatakan rasional apabila dapat diterima oleh akal pemikiran manusia yang didasarkan pada rasio. Corak berpikir yang dipengaruhi oleh unsur-unsur logis seperti ini di dalam filsafat dikenal sebagai rasionalisme. Aliran yang memandang bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Oleh karena itu, rasio dianggap sebagai alat yang penting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Sehingga ada sebagian yang menyatakan bahwa rasio sebagai suatu potensi akal menjadi sumber kebenaran yang mengatur manusia dan alam. Jadi, sesuatu yang masuk akal (logis) dianggap benar dan sesuatu yang di luar dari akal (tidak logis) dianggap tidak benar (salah).
Perkembangan ilmu yang didominasi oleh rasio dikenal dalam ilmu di Barat (modern). Ilmu yang memisahkan diri dari rasa. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Soewandi (1999: 275). Ilmu Barat atau modern hanya mengakui rasio yang menghasilkan ilmu nomotetikal. Ilmu normatif dianggap tidak boleh mencampuri ilmu nomotetikal. Inilah yang oleh Weber disebut etis netral. Bila keduanya itu bercampur (confused), simpulan yang ditarik akan kabur. Ilmu nomotetikal adalah ilmu yang ‘lugas-formal’.
Cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sains adalah tidak ada kejadian tanpa sebab. Bakhtiar (dalam Kusasi, 2005: 4) menyatakan mengenai keberadaan asumsi ini yang dianggap benar apabila sebab-akibat memiliki hubungan yang rasional. Jadi, antara ilmu dan rasio memiliki kaitan yang sangat erat, apalagi di dalam ilmu Barat. Sain dianggap sebagai hasil dari potensi akal. Dalam hal ini sain terlepas dari rasa karena sain tidak memberikan nilai baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, sopan atau tidak sopan, indak atau jelek. Sain hanya memberikan nilai benar atau salah.
Manusia yang diberi potensi akal (rasio) dan potensi kalbu (rasa) oleh Tuhan, akan membantunya untuk mengetahui dan memahami alam semesta meski masih dengan cara yang sederhana. Keduanya harus digunakan secara seimbang untuk meningkatkan kesejahteraan. Oleh karena itu, rasio harus diimbangi pula dengan rasa dalam kaitannya dengan ilmu.
3.Manusia, Bahasa dan Kebudayaannya
Bahasa bukan saja merupakan property yang ada pada diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang didalamnya terkandung makna. Dari sudut wacana, makna tidak pernah bersifat absolute, selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu pada tanda-tanda kehidupan manusia yang didalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya.
Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya akan berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam bahasa Inggris sepadan dengan Fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Namun, kata iwak dalam bahasa Jawa bukan berarti ikan atau fish, melainkan daging yang digunakn sebagai lauk (teman makan nasi). Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua ini karena bahasa tiu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Dalam budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok, hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah dan padi. Karena itu, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain bearti gabah, padi atau beras pada konteks lain pula. Lalu karena makan nasi bukan merupakan kebudayaan Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyarakatnya tidak bebbudaya makan nasi tidak ada yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa). Contoh lain dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin; brother and sister. Padahal budaya Indonesia membedalkan berdasarkan usia: yang lebih tus disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Maka itu brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga adik.
4.Manusia dan Sarana Berfikir Ilmiah (Bahasa, Statistika, Matematika)
4.1. Bahasa
Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernafas dan berjalan. Menurut Ernest Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Jujun, bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikir melainkan terletak pada kemampuan berbahasa (Jujun S. Suriasumantri dalam bakhtiar, 2010:175). Berpikir sebagai proses berkerjanya akal dalam menelaah sesuatu merupakan ciri hakiki manusia. Hasil kerjanya dinyatakan dalam bentuk bahasa. Bahasa adalah suatu simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat berkomunikasi (Bloch dan trager dalam buku bakhtiar 2004:176).
Untuk menelaah bahasa ilmiah perlu dijelaskan tentang pengolongan bahasa. Ada dua pengolongan bahasa yang umumnya dibedakan yaitu:
1.Bahasa alamiah, bahasa alamiah dibedakan menjadi dua bagian yaitu bahasa isyarat dan bahasa biasa
2.Bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akar pikiran untuk maksud tertentu. Bahasa buatan dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bahasa istilah dan bahasa artificial.
Contoh sarana berfikir ilmiah dalam bahasa yaitu :
•Bahasa istilah, bahasa ini rumusanya diambil dari bahasa biasa yang diberi arti tertentu, misal demokrasi (demos dan kratien)
4.2. Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambaikan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Bahasa matematika sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan kita berpaling kepada matematika.Matematika adalah bahasa yang berusaha menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa verbal.
Contoh sarana berfikir ilmiah matematika yaitu :
•Umpamanya kita sedang mempelajari kecepatan jalan kaki seorang anak maka objek “kecepatan jalan kaki seorang anak” dilambangkan x, dalam hal ini maka x hanya mempunyai arti yang jelas yakni “kecepatan jalan kaki seorang anak”. Demikian juga bila kita hubungkan “kecepatan jalan kaki seorang anak” dengan obyek lain misalnya “jarak yang ditempuh seorang anak” yang kita lambangkan dengan y, maka kita lambangkan hubungan tersebut dengan z = y / x dimana z melambangkan “waktu berjalan kaki seorang anak”. Pernyataan z = y / x tidak mempunyai konotasi emosional, selain itu bersifat jelas dan spesifik.
4.3. Statistika
Secara etimologi, kata statistik berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti dengan state (bahasa Inggris) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan negara. Pada mulanya kata statistik diartikan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan bagi suatu negara”. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi dengan kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif saja) (Anas Sudiono dalam bakhtiar, 2010, 198).
Statistika erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Menurut (Sudjana 1996 : 3) statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengelolaan atau penganalisiannya dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang dilakukan. Jadi statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan untuk mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil suatu kesimpulan kegiatan ilmiah. Untuk dapat mengambil suatu keputusan dalam kegiatan ilmiah diperlukan data-data, metode penelitian serta penganalisaan harus akurat.
Contoh sarana berfikir ilmiah statistika yaitu :
•Pengujian statistik mampu memberikan secara kuantitatif tingkat kesulitan dari kesimpulan yang ditarik tersebut, pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni “makin besar contoh yang diambil makin tinggi pula tingkat kesulitan kesimpulan tersebut. Sebaliknya, makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya”. Karakteristik ini memungkinkan kita untuk dapat memilih dengan seksama tingkat ketelitian yang dibutuhkan sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi.

PENUTUP

A.KESIMPULAN
Manusia dalam konsep kehidupannya, mengembangkan pengetahuan tidak lepas dari kemampuan menalar. Manusia satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan. Namun pengetahuan ini terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival). Manusia mengembangkan pengetahuan bukan hanya sekadar untuk kelangsungan hidup, tetapi dengan memikirkan hal-hal baru manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, dengan kata lain semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekadar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi.

Salah satu ciri atau sifat manusia adalah keingintahuannya terhadap apa yang ditanggapi oleh panca indera, terutama indera penglihatan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah diberi potensi melalui rasio (potensi akal) dan rasa (kalbu). Rasio adalah kemampuan manusia yang bertumpu pada akal, menolak sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan akaliah (logika). Manusia yang diberi potensi akal (rasio) dan potensi kalbu (rasa) oleh Tuhan, akan membantunya untuk mengetahui dan memahami alam semesta meski masih dengan cara yang sederhana. Keduanya harus digunakan secara seimbang untuk meningkatkan kesejahteraan. Oleh karena itu, rasio harus diimbangi pula dengan rasa dalam kaitannya dengan ilmu.

Bahasa bukan saja merupakan property yang ada pada diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang didalamnya terkandung makna. Dari sudut wacana, makna tidak pernah bersifat absolute, selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu pada tanda-tanda kehidupan manusia yang didalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya. Jika ditinjau dari sarana berfikir ilmiah, manusia memiliki 3 sarana berfikir ilmiah yaitu bahasa, matematika dan statistika.

B.SARAN
1.Semoga dengan adanya paper ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu bagi pembaca
2.Perlunya kajian lebih dalam bagi pembaca tentang konsep hidup manusia dalam perspektif filsafat ilmu
3.Perlunya referensi yang memadai jika ingin menganalisa hal yang sama (bagi peneliti lain)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2009. Esensi Manusia Menurut Sejumlah Aliran Dalam Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Bagus, Lorenz. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Grafindo Persada
Dikuti dari blog Akun. 2010. Fungsi Filsafat Dalam Kehidupan. Multiply
Dikutip dari blog Anak Sastra. 2011. Hubungan Bahasa dengan Budaya. Blogspot
Dikutip dari blog Jasmine. 2010. Rasio dan Rasa. Blogspot
Dikutip dari Kompasiana. 2011. Kehidupan dan Daya Manusia dalam Konteks Filsafat. Jakarta
Dikutip dari blog Leonardo Ansis. 2011. Filsafat sebagai Ilmu tentang Kehidupan Manusia. WordPress
Dikutip dari portal Universitas Pattimura. 2011. Filsafat Ilmu. Semarang
Dikutip dari blog Resty. 2011. Makalah Filsafat Ilmu dan Sains. WordPress
Dikutip dari blog Reza A.A Wattimena. 2012. Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita. Surabaya: WordPress
Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta
Endang Saefuddin Anshari. 1982. Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: Grasindo
Hardiman, F.Budi. 2004. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia Susanto A. 2010. Filsafat Ilmu suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara
Nur Ahmad Fadhil Lubis. 2001. Pengantar Filsafat Umum. Medan: IAIN Press
Sumantri, Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Suriasumantri, J.S. 1995. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia
Suriasumantri, J.S. 2001. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Surip Muhammad, Mursini. 2010. Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan Dalam Berfikir Kritis. Medan: Citra Pustaka
The liang gie. 1996. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty
Wattimena, Reza A.A. 2008. Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s