Aside

PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN SAINS

Begitu dekat hubungan antara sains dan filsafat sehingga beberapa ilmu pengetahuan tertentu, khususnya cabang-cabang yang lebih umum, seperti matematika, fisika, kimia, biologi dan psikologi sangat diperlukan oleh mahasiswa filsafat. Sesungguhnya perluasan yang terjadi pada sains ini membuat kesusahan bagi para filsuf untuk menguasainya. Hal ini mendatangkan sebuah sifat kerendahan hati yang sehat. Berbagai sistem yang sudah jadi dan dibangun (dikonstruksi) tanpa mempertimbangkan hasil observasi dan eksperimen senantiasa kurang dihormati. Filsafat saat ini cenderung langsung menganalisa secara kritis konsep-konsep dan mempelajari berbagai makna dan nilai. Arti filsafat tidak lebih sebagai studi logis dan humanistis atas berbagai hal. Bagaimanapun juga filsuf yang ideal mesti menguasai sebanyak-banyaknya sains khusus.

A.FILSAFAT
Dari sekian pembagian ilmu dan pembahasan yang membicarakan filsafat, agaknya ada satu hal yang mendapat porsi lebih utama dari yang lainnya, dan yang satu hal ini dinamai dengan berbagai macam nama yang maksudnya tetap sama yaitu filsafat tinggi (’ulya), filsafat utama (aula), ilmu tertinggi (a’la), ilmu universal (kulli), teologi (Ilahiyah), dan filsafat metafisika.
Objek kajian materi filsafat yaitu :
1.Masalah Tuhan, yang sama sekali diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
2.Masalah alam, yang belum atau tidak bisa dijawab dengan ilmu pengetahuan biasa.
3.Masalah manusia
Kegunaan Filsafat yaitu :
1.Pedoman dalam kenyataan kehidupan sehari-hari.
2.Melalui filsafat (salah satunya) tingkah lakunya akan lebih bernilai
3.Kehidupan dan penghidupan ke arah yang negatif akan dapat dihindari dan dikurangi.

B.SAINS
Kata sains berasal dari bahasa latin “scientia” yang berarti pengetahuan.memandang dan mengamati keberadaan (eksistensi) alam ini sebagai suatu objek. Sains merupakan suatu metode berpikir secara objektif. Tujuannya, menggambarkan dan memberi makana pada dunia yang faktual. Sains adalah gambaran yang lengkap dan konsisten tentang berbagai fakta pengalaman dalam suatu hubungan yang mungkin paling sederhana. Sains dalam hal ini merujuk kepada sebuah sistem untuk mendapatkan pengetahuan yang dengan menggunakan pengamatan dan eksperimen untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena – fenomena yang terjadi di alam .
Sejarah perkembangan sains menunjukkan bahwa sains berasal dari penggabungan dua tradisi tua, yaitu tradisi pemikiran filsafat yang dimulai oleh bangsa Yunani kuno serta tradisi keahlian atau keterampilan tangan yang berkembang di awal peradaban manusia yang telah ada jauh sebelum tradisi pertama lahir. Filsafat memberikan sumbangan berbagai konsep dan ide terhadap sains sedangkan keahlian tangan memberinya berbagai alat untuk pengamatan alam. Sains modern bisa lahir dari perumusan metode ilmiah yang disumbangkan Rene Descartes yang menyodorkan logika rasional dan deduksi oleh Francis Bacon yang menekankan pentingnya eksperimen dan observasi.
Sumbangan konsep dan ide dalam sains terbukti telah banyak mengubah pandangan manusia terhadap alam sekitarnya. Contoh yang paling terkenal adalah teori relativitas dari Albert Einstein. Teori relativitas umum ini misalnya telah mengubah pandangan orang secara drastis akan sifat kepastian waktu serta sifat massa yang dianggap tetap. Disamping kekuatan konsep dan ide, melalui keampuhan alat dan telitinya pengamatan, kegiatan sains juga terbukti menjadi pemicu berbagai revolusi ilmiah.

C.FILSAFAT DAN SAINS
Pada zaman ini, di barat filsafat khususnya metafisika dianggap bukanlah sebagai sains. Sebagaimana yang dikatakan August Comte, bahwa filsafat dalam bentuk metafisika adalah fase kedua dalam perkembangan manusia, setelah agama yang disebut sebagai fase pertamanya. Adapun yang disebut dengan fase ketiga atau fase yang paling modern dalam perkembangan manusia adalah sains yang bersifat positivistik (yang dapat dilihat oleh indra lahir manusia) daan karena sains merupakan perkembangan terakhir fase ketiga maka manusia modern harus meninggalkan fase-fase sebelumnya yang dianggap sudah kuno seperti fase agama, teologis dan metafisika filosofis jika ingin tetap bisa dikatakan sebagai manusia modern.
Berbeda dengan apa yang terjadi di barat, dalam tradisi ilmiah Islam filsafat tetap dipertahankan hingga kini dalam posisi ilmiahnya yang tinggi sebagai sumber atau basis bagi ilmu-ilmu umum yang biasa kita sebut sebagai sains, yakni cabang-cabang ilmu yang berkaitan dengan dunia empiris, dunia fisik. Dalam tradisi Islam, Filsafat adalah induk dari semua ilmu yang menelaah ilmu rasional (aqliyyah) seperti metafisika, fisika dan matematika. Adapun sains dalam tradisi ilmiah Islam adalah termasuk kedalam kelompok ilmu rasional dibawah ilmu-ilmu fisik, sehingga mau tidak mau sains harus tetap menginduk kepada filsafat, khususnya kepada metafisika filsafat. Alih-alih sains dikatakan terlepas dari filsafat sebagaimana yang disinyalir oleh August Comte, filsafat justru dipandang sebagai induk dari sains.
Selain sebagai basis metafisik ilmu (sains), filsafat juga bisa dijadikan sebagai basis moral bagi ilmu dengan alasan bahwa tujuan menuntut ilmu dari sudut aksiologis adalah untuk memperoleh kebahagiaan bagi siapa saja yang menuntutnya. Filsafat, khususnya Metafisika adalah ilmu yang mempelajari sebab pertama atau Tuhan, yang menempati derajat tertinggi dari objek ilmu. Oleh karena itu sudah semestinyalah jika metafisika dijadikan basis etis peneletian ilmiah karena ilmu ini akan memberikan kebahagiaan kepada siapa saja yang mengkajinya.

D.PERBEDAAN FILSAFAT DAN SAINS
Perbedaan yang paling mendasar antara filsafat dan sains adalah cara mengambil kesimpulan. Filsafat berusaha mencari kebenaran atas suatu hipotesa hanya dengan kekuatan berfikir. Sains bertumpu pada data-data yang telah diambil dan diverifikasi. Oleh karena itu keluaran yang dihasilkan juga berbeda tipe. Teori-teori keluaran filsafat bersifat Kualitatif dan Subjektif. Sedangkan sains menghasilkan output yang Kuantitatif dan Objektif.
Terdapat perbedaan yang hakiki antara filsafat dan sains, diantaranya:
1.Sains bersifat analisis dan hanya menggarap salah satu pengetahuan sebagai objek formalnya. Filsafat bersifat synopsis, artinya melihat segala sesuatu dengan menekankan secara keseluruhan, karena keseluruhan mempunyai sifat tersendiri yang tidak ada pada bagian-bagiannya.
2.Sains bersifat deskriptif tentang objeknya agar dapat menentukan fakta-fakta, netral dalam arti tidak memihak pada etik tertentu. Filsafat tidak hanya menggambarkan sesuatu melainkan membantu manusia untuk mengambil putusan-putusan tentang tujuan, nilai-nilai dan tentang apa-apa yang harus diperbuat manusia. Filsafat tidak netral karena faktor subjektif memegang peranan yang penting dalam filsafat.
3.Sains mengawali kerjanya dengan bertolak dan suatu asumsi yang tidak perlu diuji, sudah diakui dan diyakini kebenarannya. Filsafat bisa merenungkan kembali asumsi-asumsi yang telah ada untuk diuji ulang kebenarannya. Jadi, filsafat dapat meragukan setiap asumsi yang ada, dimana oleh sains telah diakui kebenarannya.
4.Sains menggunakan eksperimentasi terkontrol sebagai metode yang khas. Verfikasi terhadap teori dilakukan dengan cara menguji dalam praktek berdasarkan metode sains yang empiris. Filsafat selain menggunakan teori dapat juga menggunakan hasil sains, dilakukan dengan menggunakan akal pikiran yang didasarkan pada pengalaman insani.

E.TITIK TEMU FILSAFAT DAN SAINS
Ada beberapa titik temu antara filsafat dan sains yaitu :
1.Banyak ahli filsafat yang termasyhur yang telah memberikan sumbangannya terhadap
perkembangan sains modern, seperti Leibnitz yang menemukan kalkulus diferensial, Ibnu Kholdun yang telah memberikan sumbangannya terhadap perkembangan ilmu kedokteran dan Auguste Comte yang disebut Bapak Sosiologi yang mempelopori perkembangan ilmu sejarah dan sosiologi.
2.Filsafat dan sains keduanya menggunakan metode berpikir reflektif dalam menghadapi fakta dunia.
3.Filsafat dan sains keduanya menunjukan sikap kritis dan terbuka dan memberikan perhatian yang tidak berat sebelah terhadap kebenaran.
4.Filsafat dan sains keduanya tertarik terhadap pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis.
5.Sains membantu filsafat dalam mengembangkan sejumlah bahan deskriptif dan faktual serta esensial bagi pemikiran filsafat.
6.Sains mengoreksi filsafat dengan menghilangkan sejumlah ide-ide yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah.
7.Filsafat merangkum pengetahuan yang terpotong, yang menjadikan beraneka macam sains yang berbada serta menyusun bahan tersebut ke dalam suatu pandangan tentang hidup dan dunia yang lebih menyeluruh dan terpadu.

PERKEMBANGAN FILSAFAT DAN SAINS

Aside

KEBENARAN, LOGIKA DAN TEORI PENGETAHUAN

PENDAHULUAN
Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin dan konflik psikologis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang selalu ditunjukkan oleh kebenaran.

Kebenaran agama yang ditangkap dengan seluruh kepribadian, terutama oleh hati nurani merupakan puncak kesadaran manusia. Hal ini bukan saja karena sumber kebenaran itu berasal dari Tuhan Yang Maha Esa supernatural melainkan juga karena yang menerima kebenaran ini adalah satu subyek dengan integritas kepribadian. Nilai kebenaran agama menduduki status tertinggi karena wujud kebenaran ini ditangkap oleh integritas kepribadian. Seluruh tingkat pengalaman, yakni pengalaman ilmiah, dan pengalaman filosofis terhimpun pada puncak kesadaran religius yang didalam kebenaran ini mengandung tujuan hidup manusia dan sangat berarti untuk dijalankan oleh manusia.
Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan manusia. Sebagai nilai-nilai yang menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran. Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan mengacu pada kesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yang dipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal.

PEMBAHASAN
A.Pengertian Kebenaran Dan Tingkatannya
Dalam kehidupan manusia, kebenaran adalah fungsi rohaniah. Manusia di dalam kepribadian dan kesadarannya tak mungkin tanpa kebenaran. Berdasarkan potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi:
1.Tingkatan kebenaran indera adalah tingkatan yang paling sederhana dan pertama yang dialami manusia
2.Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indera, diolah pula dengan rasio
3.Tingkat filosofis, rasio dan pikiran murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya
4.Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan Yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.
Keempat tingkat kebenaran ini berbeda-beda wujud, sifat dan kualitasnya bahkan juga proses dan cara terjadinya, disamping potensi subyek yang menyadarinya. Potensi subyek yang dimaksud disini ialah aspek kepribadian yang menangkap kebenaran itu. Misalnya pada tingkat kebenaran indera, potensi subyek yang menangkapnya ialah panca indra. Kebenaran itu ialah fungsi kejiwaan, fungsi rohaniah. Manusia selalu mencari kebenaran itu, membina dan menyempurnakannya sejalan dengan kematangan kepribadiannya.
•Ukuran Kebenarannya :
– Berfikir merupakan suatu aktifitas manusia untuk menemukan kebenaran
– Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain
– Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran
•Jenis-jenis Kebenaran :
– Kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan)
– Kebenaran Ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/diadakan)
– Kebenaran Semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata)

B.Teori-Teori Kebenaran Menurut Filsafat
1.Teori Corespondence
Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita obyek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi) sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar.
Teori korespondensi (corespondence theory of truth) menerangkan bahwa kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang dituju/dimaksud oleh pernyataan atau pendapat tersebut. Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan dengan fakta, yang selaras dengan realitas yang serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian ada lima unsur yang diperlukan yaitu :
1. Pernyataan (statement)
2. Persesuaian (agreemant)
3. Situasi (situation)
4. Kenyataan (realitas)
5. Putusan (judgements)
Kebenaran adalah fidelity to objektive reality (kesesuaian pikiran dengan kenyataan). Teori ini dianut oleh aliran realis. Pelopornya Plato, Aristoteles dan Moore dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina, Thomas Aquinas di abad skolatik, serta oleh Berrand Russel pada abad modren.
Cara berfikir ilmiah yaitu logika induktif menggunakan teori korespodensi ini. Teori kebenaran meniru korespondensi ini sudah ada di dalam masyarakat sehingga pendidikan moral bagi anak-anak ialah pemahaman atas pengertian-pengertian moral yang telah merupakan kebenaran itu. Apa yang diajarkan oleh nilai-nilai moral ini harus diartikan sebagai dasar bagi tindakan-tindakan anak di dalam tingkah lakunya.
Artinya anak harus mewujudkan di dalam kenyataan hidup, sesuai dengan nilai-nilai moral itu. Bahkan anak harus mampu mengerti hubungan antara peristiwa-peristiwa di dalam kenyataan dengan nilai-nilai moral itu dan menilai adakah kesesuaian atau tidak sehingga kebenaran berwujud sebagai nilai standard atau asas normatif bagi tingkah laku. Apa yang ada di dalam subyek (ide, kesan) termasuk tingkah laku harus dicocokkan dengan apa yang ada di luar subyek (realita, obyek, nilai-nilai) bila sesuai maka itu benar.
2.Teori Consistency
Teori ini merupakan suatu usaha pengujian (test) atas arti kebenaran. Hasil test dan eksperimen dianggap reliable jika kesan-kesan yang berturut-turut dari satu penyelidik bersifat konsisten dengan hasil test eksperimen yang dilakukan penyelidik lain dalam waktu dan tempat yang lain. Menurut teori consistency untuk menetapkan suatu kebenaran bukanlah didasarkan atas hubungan subyek dengan realitas obyek. Apabila didasarkan atas hubungan subyek (ide, kesannya dan comprehensionnya) dengan obyek, pastilah ada subyektivitasnya. Oleh karena itu pemahaman subyek yang satu tentang sesuatu realitas akan mungkin sekali berbeda dengan apa yang ada di dalam pemahaman subyek lain. Teori ini dipandang sebagai teori ilmiah yaitu sebagai usaha yang sering dilakukan di dalam penelitian pendidikan khususnya di dalam bidang pengukuran pendidikan.
Teori konsisten ini tidaklah bertentangan dengan teori korespondensi. Kedua teori ini lebih bersifat melengkapi. Teori konsistensi adalah pendalaman dan kelanjutan yang teliti dari teori korespondensi. Teori korespondensi merupakan pernyataan dari arti kebenaran. Sedangkan teori konsistensi merupakan usaha pengujian (test) atas arti kebenaran.
3.Teori Koherensi (the coherence theory of truth)
Teori koherensi menganggap suatu pernyataan benar bila di dalamnya tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas pertimbangan yang konsisten dan pertimbangan lain yang telah diterima kebenarannya. Rumusan kebenaran adalah truth is a sistematis coherence dan truth is consistency. Jika A = B dan B = C maka A = C.
Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis. Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggap benar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yang benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.
4.Teori Pragmatisme
Pragmatisme menguji kebenaran dalam praktek yang dikenal para pendidik sebagai metode project atau metode problem solving di dalam pengajaran. Mereka akan benar-benar jika mereka mampu memecahkan problem yang ada. Artinya sesuatu itu benar, jika mengembalikan pribadi manusia di dalam keseimbangan dalam keadaan tanpa persoalan dan kesulitan. Sebab tujuan utama pragmatisme ialah supaya manusia selalu ada di dalam keseimbangan, untuk ini manusia harus mampu melakukan penyesuaian dengan tuntutan-tuntutan lingkungan.
Dalam dunia pendidikan, suatu teori akan benar jika ia membuat segala sesuatu menjadi lebih jelas dan mampu mengembalikan kelangsungan pengajaran, jika tidak, teori ini salah. Jika teori itu praktis, mampu memecahkan problem secara tepat barulah teori itu benar. Yang dapat secara efektif memecahkan masalah itulah teori yang benar (kebenaran).
Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yang memuaskan (satis faktor consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya.
Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan
2. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen
3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis
Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsuf Amerika tokohnya adalah Charles S. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859). Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsekuensi, pada hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsekuensi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri, melainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teory Dewey bukanlah mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). Melainkan mengerti segala sesuatu sesuai dengan praktek yang ada di dalam program solving.

C.Pengertian Logika
Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.

D.Dasar-Dasar Logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas) sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logika menjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika formal.
Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan induktif. Penalaran deduktif kadang disebut logika deduktif. Deduktif adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Contoh argumen deduktif:
•Setiap mamalia punya sebuah jantung
•Semua kuda adalah mamalia
•Setiap kuda punya sebuah jantung
Penalaran induktif kadang disebut logika induktif. Induktif adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.
Contoh argumen induktif:
•Kuda Sumba punya sebuah jantung
•Kuda Amerika punya sebuah jantung
•Kuda Inggris punya sebuah jantung
•Setiap kuda punya sebuah jantung

E.Macam-Macam Logika
1.Logika alamiah
Logika alamiah adalah kinerja akal budi manusia yang berpikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Logika ini bisa dipelajari dengan memberi contoh penerapan dalam kehidupan nyata.
2.Logika ilmiah
Logika ilmiah menjadi ilmu khusus yang merumuskan azas-azas yang harus ditepati dalam setiap pemikiran. Berkat pertolongan logika ilmiah inilah akal budi dapat bekerja dengan lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan lebih aman. Logika ilmiah dimaksudkan untuk menghindarkan kesesatan atau, paling tidak, dikurangi.

F.Kegunaan Logika
1.Membantu setiap orang yang mempelajari logika untuk berpikir secara rasional, kritis, lurus, tetap, tertib, metodis dan koheren.
2.Meningkatkan kemampuan berpikir secara abstrak, cermat, dan objektif.
3.Menambah kecerdasan dan meningkatkan kemampuan berpikir secara tajam dan mandiri.
4.Memaksa dan mendorong orang untuk berpikir sendiri dengan menggunakan asas-asas sistematis
5.Meningkatkan cinta akan kebenaran dan menghindari kesalahan-kesalahan berpikir, kekeliruan, serta kesesatan.
6.Mampu melakukan analisis terhadap suatu kejadian.
7.Apabila sudah mampu berpikir rasional, kritis, lurus, metodis dan analitis sebagaimana tersebut pada butir pertama maka akan meningkatkan citra diri seseorang.

G.Teori Pengetahuan
Teori pengetahuan sebenarnya adalah salah satu cabang dari struktur filsafat, selain teori hakikat dan teori nilai. Teori pengetahuan ini membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan. Sehingga lebih banyak berbicara tentang hakikat pengetahuan, cara berpikir, dan hukum berpikir yang mana harus dipergunakan agar kita mendapatkan hasil pemikiran yang kemungkinan benarnya lebih besar. Teori pengetahuan terbagi menjadi:
a.Empirisme
John Locke, seorang bapak empirisme dari Britania mengatakan bahwa manusia dilahirkan akalnya merupakan jenis buku catatan yang kosong. Didalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman indrawi. Dan lebih lanjut lagi John Locke mengatakan, seluruh sisa pengetahuan kita peroleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama dan sederhana itu. Singkat cerita, pengetahuan yang didapat dengan empirisme ini lebih banyak dikarenakan pengalaman-pengalaman yang pernah dilalui, seberapa rumitnya pengetahuan dapat dilacak dengan pengalaman-pengalaman indrawi.
b.Rasionalisme
Rasio berarti akal. Rasionalisme berarti suatu paham dimana sumber pengetahuan berasal dari akal. Rene descartes, bapak rasionalisme berusaha menemukan kebenaran yang tidak dapat diragukan, sehingga memakai metode deduktif (kesimpulan ditarik dari premis-premis umum) untuk menyimpulkan pengetahuan. Seorang rasionalis tentunya mengakui bahwa kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh kesimpulan-kesimpulan yang jumlahnya sama banyaknya dengan kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh premis-premis yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan tersebut. Dan seorang rasionalis pastilah memandang pengalaman sebagai salah satu alat bantu dari akal, karena menurutnya pengetahuan berasal dari akal pikiran.
c.Fenomenalisme
Fenomenalisme adalah sebuah paham untuk mencari pengetahuan berdasarkan gejala yang terjadi. Seorang Immanuel Kant, bapak fenomenalisme membuat uraian tentang pengalaman, bahwa sesuatu sebagaimana terdapat dalam dirinya sendiri merangsang alat inderawi dan diterima oleh akal kita dalam bentuk-bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Dan karena itu pula, seorang fenomenalis tidak pernah mempunyai pengetahuan tentang barang sesuatu yang terjadi seperti keadaannya sendiri, melaikna hanya tentang sesuatu yang menampak, dan inilah yang disebut dengan gejala.
Immanuel Kant mengemukakan tentang fenomenalis, karena mengkritik salah seorang pemikir yang mengkritik sumber ilmu pengetahuan berasal dari hal yang bersifat empiris dan rasional. Karena menurut Kant, seorang empirisme benar apabila pengetahuan didasarkan pada pengalaman, meskipun hanya sebagian dan seorang rasionalis juga benar, karena akalnya memaksakan bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman.
d.Instuisionisme
Intuisi adalah hal yang bersifat alamiah, pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis dan memberikan kepada kita keseluruhan yang bersahaja, yang mutlak tanpa suatu ungkapan, teremahan atau deskripsi secara simbolis. Intusionalisme adalah suatu aliran atau faham yang menganggap bahwa intuisi (naluri/perasaan) adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Intuisi termasuk salah satu kegiatan berfikir yang tidak didasarkan pada penalaran. Jadi Intuisi adalah non-analitik dan tidak didasarkan atau suatu pola berfikir tertentu dan sering bercampur aduk dengan perasaan.
Menurut Henry Bergson,filsuf asal Prancis, intuisi adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Analisa atau pengetahuan yang diperoleh dengan jalan pelukisan, tidak akan dapat menggantikan hasil pengenalan secara langsung dari pengetahuan intuitif. Seorang instuisif memperoleh pengetahuan dengan cara mengetahui beberapa bagian dari suatu peristiwa namun tidak mengalami keseluruhannya.
e.Metode Ilmiah
Ada suatu perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan filsafat, jikalau ilmu membicarakan kenyaataan yang sebenarnya, maka filsafat bicara tentang bagimana cara memperoleh jawaban. Sehingga munculah metode ilmiah sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan. Metode ilmiah dimulai dengan pengamatan-pengamatan dan berakhir dengan pengamatan pula. Sehingga pengamatan adalah hal yang pasti terukur.
Dalam metode ilmiah ini kita akan mengenal sebuah hipotesa. Hipotesa berarti usulan penyelesaian yang berupa saran dan sebagai sebuah konsekuensi yang harus dipandang sementara dan memerlukan verifikasi dan biasanya akan memungkinkan adanya sejumlah saran. Dalam prosesi menemukan hipotesa, dikatakan bahwa kegiatan akal bergerak keluar dari penglaman yang ada, mencari bentuk, dan didalamnya terdapat fakta-fakta yang telah diketahui dalam menyusun kerangka tertentu. Dan berharap bahwa fakta-fakta yang dikumpulkan cocok dengan hipotesa yang dibangun (proses verifikasi). Ramalan terhadap hipotesa dimulai dengan ramalan yang dilakukan secara hati-hati, sistematis, dan dengan sengaja terhadap ramalan-ramalan yang disimpulkan dari hipotesa tersebut.

SIMPULAN DAN SARAN
A.Kesimpulan
Dalam kehidupan manusia kebenaran adalah fungsi rohaniah. Jenis-jenis kebenaran adalah kebenaran Epistemologi (berkaitan dengan pengetahuan), kebenaran ontologis (berkaitan dengan sesuatu yang ada/ diadakan) dan kebenaran semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata). Ada banyak teori kebenaran menurut filsafat diantaranya yaitu teori korespondensi, teori konsistensi, teori koherensi dan teori pragmatisme.
Logika sangat berperan penting dalam kehidupan manusia diantaranya untuk berfikir secara rasional dan kritis, meningkatkan kemampuan berfikir, mendorong orang berfikir menurut azas dan meningkatkan cinta akan kebenaran. Jika dikaitkan, kebenaran, logika dan pengetahuan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Kaitan ketiganya membuat mereka sulit untuk terpisahkan. Sama halnya dengan kebenaran, pengetahuan juga memiliki teori yaitu empirisme, rasionalisme, fenomenalisme, instuisionisme dan metode ilmiah.

B.Saran
1.Perlunya kajian lebih dalam bagi pembaca tentang kebenaran, logika dan pengetahuan karena ketiga hal ini tidak terlepas bagi kehidupan manusia.
2.Perlunya referensi yang memadai jika ingin menganalisa hal yang sama (bagi peneliti lain)

DAFTAR PUSTAKA
Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Kebenaran, Logika dan Pengetahuan. Jakarta
Hendrik jan Rapar. 1996. Pengantar Logika, Asas-Asas Penalaran Sistematis. Jakarta: Kanisius
Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Surip Muhammad, Mursini. 2010. Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan Dalam Berfikir Kritis. Medan: Citra Pustaka

KEBENARAN, LOGIKA DAN TEORI PENGETAHUAN

PENILAIAN BERBASIS KELAS


PENILAIAN BERBASIS KELAS

A.Pengertian Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan ( standar komptensi, komptensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar). Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa. maksudnya adalah hasil Penilaian Berbasis Kelas dapat menggambarkan kompetensi, keterampilan dan kemajuan siswa selama di kelas.
Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja(performance), tes tertulis (paper and pen) dsb. Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian prestasi siswa.

B.Manfaat Keunggulan dan Prinsip Berbasis Kelas
1.Hasil Penilaian Berbasis Kelas Bermanfaat Untuk
– Umpan balik bagi siswa dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi untuk memperbaiki hasil belajarnya.
– Memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar siswa sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya
– Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas.
– Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan walaupun dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda.
2.Keunggulan Penilaian Berbasis Kelas adalah
– Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun non formal diadakan secara terpadu, dalam suasana yang menyenangkan, serta senantiasa memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui, dipahami dan mampu dikerjakan siswa.
– Pencapaian hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok, tetapi dibandingkan dengan kemampuan sebelumnya kriteria pencapaian kompetensi, standar pencapaian, dan level pencapaian nasional, dalam rangka membantu anak mencapai apa yang ingin dicapai bukan untuk menghakiminya.
– Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara, agar kemajuan belajar siswa dapat terdeteksi secara lengkap.
– Siswa perlu dituntut agar dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan semua potensi dalam menanggapi, mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri, bukan sekedar melatih siswa memilih jawaban yang tersedia.
– Untuk menentukan ada tidaknya kemajuan belajar dan perlu tidaknya bantuan secara berencana, bertahap dan berkesinambungan, berdasarkan fakta dan bukti yang cukup akurat.
3.Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas
– Valid, penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa.
– Mendidik, penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa.
– Berorientasi pada kompetensi, penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
– Adil, penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa dan gender.
– Terbuka, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
– Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya. (Depdiknas, 2002).

C.Bentuk-bentuk Instrumen dalam penilaian Berbasis kelas menurut Suharto (2009) dan Radno harsanto (2007) yaitu :
1.Penilaian Unjuk kerja
Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu seperti: praktek di laboratorium, praktek sholat, praktek OR, persentasi, diskusi, bermain peran, memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi/ deklamasi dll. Cara penilaian ini dianggap lebih otentik daripada tes tertulis karena apa yang dinilai lebih mencerminkan kemampuan peserta didik yang sebenarnya.
2.Penilaian Sikap
Sikap bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk, sehingga terjadi perilaku atau tindakan yang diinginkan. Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: afektif, kognitif, dan konatif. Komponen afektif adalah perasaan yang dimiliki oleh seseorang atau penilaiannya terhadap sesuatu objek. Komponen kognitif adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai objek. Adapun komponen konatif adalah kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan cara-cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.
3.Penilaian Tertulis
Penilaian secara tertulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya.
4.Penilaian Proyek
Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu
5.Penilaian Produk
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk. Penilaian produk meliputi penilaian kemampuan peserta didik membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil karya seni (patung, lukisan, gambar), barang-barang terbuat dari kayu, keramik, plastik, dan logam.
6.Penilaian Portofolio
Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik, hasil tes (bukan nilai) atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu dalam satu mata pelajaran. Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik sendiri. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi musik, gambar, foto, lukisan, resensi buku/ literaty78tur, laporan penelitian, sinopsis, dsb.
7.Penilaian Diri
Penilaian diri adalah suatu teknik penilaian dimana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.

D.Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotor sebagai Objek Evaluasi Hasil Belajar
1.Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom dalam Sudijono (2003:49) segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif terdapat 6 (enam) jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang yang terendah sampai jenjang yang paling tinggi, yaitu:
– Pengetahuan (Knowledge
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan, metodologi, prinsip dasar, dsb. Sebagai contoh, ketika diminta menjelaskan manajemen kualitas, orang yg berada di level ini bisa menguraikan dengan baik definisi dari kualitas, karakteristik produk yang berkualitas, standar kualitas minimum untuk produk.
– Pemahaman (Comprehension)
Dikenali dari kemampuan untuk membaca dan memahami gambaran, laporan, tabel, diagram, arahan, peraturan, dsb. Sebagai contoh, orang di level ini bisa memahami apa yang diuraikan dalam fish bone diagram, pareto chart, dsb.
– Penerapan (Application)
Ditingkat ini, seseorang memiliki kemampuan untuk menerapkan gagasan, prosedur, metode, rumus, teori, dsb di dalam kondisi kerja. Sebagai contoh, ketika diberi informasi tentang penyebab meningkatnya reject di produksi, seseorang yg berada di tingkat aplikasi akan mampu merangkum dan menggambarkan penyebab turunnya kualitas dalam bentuk fish bone diagram.
– Analisis (Analysis)
Ditingkat analisis, seseorang akan mampu menganalisis informasi yang masuk dan membagi-bagi atau menstrukturkan informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungannya, dan mampu mengenali serta membedakan faktor penyebab dan akibat dari sebuah skenario yg rumit. Sebagai contoh, di level ini seseorang akan mampu memilah-milah penyebab meningkatnya reject, membanding-bandingkan tingkat keparahan dari setiap penyebab, dan menggolongkan setiap penyebab ke dalam tingkat keparahan yg ditimbulkan.
– Sintesis (Syntesis)
Satu tingkat di atas analisis, seseorang di tingkat sintesa akan mampu menjelaskan struktur atau pola dari sebuah skenario yang sebelumnya tidak terlihat, dan mampu mengenali data atau informasi yang harus didapat untuk menghasilkan solusi yg dibutuhkan. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas mampu memberikan solusi untuk menurunkan tingkat reject di produksi berdasarkan pengamatannya terhadap semua penyebab turunnya kualitas produk.
– Penilaian/penghargaan(Evaluation)
Dikenali dari kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap solusi, gagasan, metodologi, dsb dengan menggunakan kriteria yang cocok atau standar yg ada untuk memastikan nilai efektivitas atau manfaatnya. Sebagai contoh, di tingkat ini seorang manajer kualitas harus mampu menilai alternatif solusi yg sesuai untuk dijalankan berdasarkan efektivitas, urgensi, nilai manfaat, nilai ekonomis, dsb
Keenam jenjang berpikir ranah kognitif ini bersifat kontinum dan everlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada di bawahnya.

2.Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Beberapa pakar menyatakan bahwa sukap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif menurut Bloom ditaksonomikan menjadi 5 (lima) jenjang, yaitu:
– Menerima atau memperhatikan (Receiving/Attending)
Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
– Menanggapi (Responding)
Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam memberikan tanggapan.
– Menghargai (Valuing)
Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam tingkah laku.
– Mengatur (Organization)
Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
– Karakterisasi Berdasarkan Nilai-nilai (Characterization by a Value or Value Complex)
Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya
3. Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
Ranah psikomotorik terbagiatas 7 tingkatan yaitu :
– Persepsi (Perception)
Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam membantu gerakan.
– Kesiapan (Set)
Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan gerakan.
– Guided Response (Respon Terpimpin)
Tahap awal dalam mempelajari keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan gerakan coba-coba.
– Mekanisme (Mechanism)
Membiasakan gerakan-gerakan yang telah dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
– Respon Tampak yang Kompleks (Complex Overt Response)
Gerakan motoris yang terampil yang di dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
– Penyesuaian (Adaptation)
Keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat disesuaikan dalam berbagai situasi.
– Penciptaan (Origination)
Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan situasi atau permasalahan tertentu.

E.Strategi Penilaian Berbasis Kelas
Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi/ penilaian pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam 6 (enam) langkah pokok, yakni:
1.Menyusun Rencana Evaluasi Hasil Belajar
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun lebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya oleh Sudijono (2003:59) mencakup enam jenis kegiatan, yakni: (a) Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. (b) menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi, (c) memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi, (d) Menyusun alat-alat pengukur dan penilaian hasil belajar peserta didik, (e) Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi dan (f) Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).
2.Menghimpun Data
Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara, atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide, atauquestionnaire (apabila evaluasi hasil belajar menggunakan teknis non tes).
3.Melakukan Verifikasi Data
Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang akan menguburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).
4.Mengolah dan Menganalisis Data
Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Untuk keperluan itu, maka data hasil evaluasi perlu disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga “dapat berbicara”. Dalam menggolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik dan atau teknik non statistik, tergantung kepada jenis data yang akan diolah atau dianalisis. Dengan analisis statistic misalnya, penyusunan atau pengaturan dan penyajian data lewat tabel-tabel, grafik, atau diagram, perhitungan-perhitungan rata-rata, standar deviasi, pengukuran korelasi, uji benda mean, atau uji benda frekuensi dan sebagainya akan dapat menghasilkan informasi-informasi yang lebih lengkap dan amat berharga.
5.Memberikan Interpretasi dan Menarik Kesimpulan
Memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.
6.Tindak Lanjut Hasil Evaluasi
Bertitik tolak dari hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya evaluator akan mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan hasil evaluasi tersebut. Harus senantiasa diingat bahwa setiap kegiatan evaluasi menuntut adanya tindak lanjut yang konkrit. Tanpa diikuti oleh tindak lanjut yang konkrit, maka pekerjaan evaluasi itu hanya akan sampai kepada pernyataan, yang menyatakan bahwa; “saya tahu, bahwa begini dan itu begitu”. Apabila hal seperti itu terjadi, maka kegiatan evaluasi itu sebenarnya tidak banyak membawa manfaat bagi evaluator.

F.Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas dalam Proses Pembelajaran
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari diri individu maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan. Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup 3 (tiga) tahapan yang dalam 3 (tiga) tahapan tersebut dapat dilakukan penilaian kelas. Tiga tahapan dimaksud, antara lain: (1) Pretest (tes awal). (2) Proses Pembelajaran. (3) Postest (tes akhir).

Aside

ABSTRAK
Gaya hidup masyarakat global yang serba cepat dan praktis sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku mahasiswa. Sebagai masyarakat ilmiah, mereka juga senantiasa menampilkan sosok gaya hidup global, seperti pola pandangan serba cepat dan praktis tanpa memikirkan apa akibatnya. Hal itu dikarenakan tuntutan sebagai mahasiwa untuk mendapatkan nilai akademis tertinggi merupakan gengsi tersendiri. Untuk itu, pentingnya orientasi hidup yang baik perlu ditanamkan kepada mahasiswa dengan cara mengubah terlebih dahulu orientasi pendidikan itu sendiri.
Kata kunci : Mahasiswa, orientasi hidup, orientasi pendidikan

PENDAHULUAN
Fakta telah menunjukan bahwa perkembangan global sebagai dampak modernisasi banyak menimbulkan paradoksal dalam kehidupan manusia. Ini dapat dicermati dari munculnya persoalan global yang menyentuh sisi-sisi kemanusiaan seperti krisis tentang makna dan tujuan hidup. Krisis tujuan hidup ini berdampak pada gaya hidup manusia yang ingin serba cepat dan praktis tanpa memikirkan apa akibatnya. Kecenderungan tersebut berimbas pada dunia perguruan tinggi. Sebagai lembaga terbuka dan tempat pemerolehan pendidikan, Perguruan tinggi dan masyarakatnya terutama mahasiswa mampu menerima, menikmati dan mengakses berbagai macam informasi melalui berbagai macam media. Berbagai macam informasi yang diperoleh mempengaruhi orientasi hidup mahasiswa seperti gaya hidupnya yang serba instan.
Pendidikan yang diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi. Kaum terdidik yang diharapkan mampu menunjukkan sikap moral dan etika. Namun yang terjadi adalah sebaliknya, banyak sekali kaum terdidik yang justru menjadi aktor tindakan kejahatan. Ini menjadi suatu problema, betapa orang terdidik yang diharapkan menjadi tauladan justru mempraktekkan tindakan kejahatan.
Penyelewengan kaum terdidik ini antara lain disebabkan karena orientasi hidup yang kehilangan arah. Mereka yang seharusnya menuntut ilmu justru hanya berorientasi pada nilai semata. Tak heran berbagai kecurangan dan penyelewengan pun dilakukan demi untuk pemenuhan tujuan tersebut. Untuk mengubah kecenderungan ini, hal yang harus dilakukan adalah menimbulkan kesadaran terhadap mahasiswa tentang orientasi hidup yang baik dengan cara mengubah orientasi pendidikan itu sendiri.
Untuk itu, masalah yang akan dibahas dalam tulisan ini dapat dirumuskan sebagai berikut “Bagaimana pentingnya orientasi hidup yang baik bagi mahasiswa dan bagaimana orientasi pendidikan itu sendiri?”. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pentingnya orientasi hidup yang baik bagi mahasiswa dan kondisi orientasi pendidikan itu sendiri.

PEMBAHASAN
Kondisi sekarang
Orientasi hidup mahasiswa zaman sekarang sudah berubah drastis, tidak lagi kritis, idealis apalagi untuk jadi aktivis. Cenderung bersikap materialistis, apatis dan individualis. Entah siapa yang salah, realita tersebut berkembang di zaman yang membutuhkan figur-figur baru untuk merubah dan meneruskan eksistensi bangsa. Di kampus ada 3 kategori sifat mahasiswa. Pertama akademisi, kedua organisatoris, dan ketiga hedonis. Dari ketiga sifat tersebut yang menurut saya paling merugikan adalah hedonis, Karena sifat tersebut istilahnya adalah hanya kuliah pulang-kuliah pulang tak memikirkan betapa beruntungnya mereka yang bisa melanjutkan kuliah dan merasakan pendidikan yang tinggi tapi hanya diisi dengan foya-foya (gaya berpakaian) serta tak peduli dengan pendidikan.
Sifat akademisi adalah mereka yang melulu berkutat pada pendidikan dan bagaimana caranya meningkatkan kemampuan serta nilai, mereka yang bersifat seperti ini biasanya selalu belajar dan belajar juga. Sifat ini membantu mahasiswa yang menyelesaikan studinya lebih cepat dari sifat-sifat lainnya. Sifat ini berguna ketika melamar pekerjaan karena mempunyai indeks prestasi yang tinggi, hanya sebatas sebagai daya tarik saja untuk mendapatkan waktu interview tetapi apakah mereka dapat dikatakan sebagai mahasiswa yang berintelektual?
Organisatoris sendiri adalah mereka yang senang akan mengatur diri sendiri ataupun orang lain dan sifat ini menurut saya lebih baik dari hedonis. Organisatoris tak melulu hanya berorganisasi dan mengenyampingkan studi, tapi lebih dari itu, sangat memikirkan bagaimana anggotanya dapat berkembang baik dalam dunia pendidikan ataupun pemerintahan. Berorganisasi baik itu ekstra atau intra akan bermanfaat nanti ketika mereka yang bersifat ini telah menyelesaikan studinya, dan akan terlihat bagaimana nanti mereka yang organisator mana yang tidak bekerja dalam satu tim.

Pentingnya orientasi hidup yang baik
Ditilik dari dunia pekerjaan yang sudah pasti dibutuhkan adalah sdm yang unggul. Mereka yang mempunyai perbedaan dari kebanyakan manusia lainnya. Itulah mengapa yang namanya pemimpin sangat sedikit. Oleh Karena itu dalam dunia pendidikan ada sebuah tolak ukur untuk mengukur tingkat kapasitas pendidikan seseorang. Namun masalahnya adalah ukuran tersebut semakin mengerucut tidak dimengerti maknanya. Sudah barang pasti kalau IPK adalah ukuran fisik dalam sebuah kapasitas pendidikan seseorang di perguruan tinggi. Namun ada satu hal yang sudah banyak dilupakan dari ukuran pendidikan yang sebenarnya, yaitu kesadaran untuk mengembangkan potensi diri agar mempunyai karakter unggul, berbeda, dengan kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, wawasan umum, akhlak mulia, serta manfaat bagi masyarakat. Potensi diri seperti ini yang disebut mahasiswa berorientasi hidup yang baik. Hal tersebut tidak bisa dilihat dari tingginya sebuah IPK seseorang.
Mahasiswa yang berorientasi baik memiliki predikat pendidikan menengah ke atas dari dulu hingga kini akan selalu memiliki fungsi strategis, yaitu sebagai pengganti kuat, pengubah yang lebih baik, kontrol sosial dan bermoral.
•Pengganti kuat
Mahasiswa adalah generasi penerus bangsa untuk mengganti atau memperkuat generasi yang sudah tua. Jadi mahasiswa harus bisa menjadi pengganti orang-orang yang memimpin di pemerintahan, dan untuk itu dibutuhkan mahasiswa yang bermental kuat sekuat besi menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang sangat sayang bila tidak dimanfaatkan bagi mereka yang memiliki kesempatan.
•Pengubah yang baik
Mahasiswa adalah salah satu harapan suatu bangsa agar bisa berubah ke arah lebih baik. Hal ini dikarenakan mahasiswa dianggap memiliki intelek yang cukup bagus dan kematangan berpikir yang cukup luwes. Maksudnya, bila ada sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitar dan itu salah, mahasiswa dituntut untuk merubahnya sesuai dengan harapan sesungguhnya.
•Kontrol sosial
Mahasiswa diupayakan agar mampu mengkritik, memberi saran dan memberi solusi jika keadaan sosial bangsa sudah tidak sesuai dengan cita-cita dan tujuan bangsa. Jadi, selain pintar dalam bidang akademis,mahasiswa juga harus pintar dalam bersosialisasi dengan lingkungan.
•Bermoral
Mahasiswa harus punya moral yang baik agar bisa merubah bangsa ke arah lebih baik jika moral bangsa sudah sangat buruk. Baik melalui kritik secara diplomatis ataupun aksi. Jadi, bila di lingkungan sekitar terjadi hal-hal yang tidak bermoral, maka mahasiswa dituntut untuk merubah dan meluruskan kembali sesuai apa yang diharapkan demi terwujudnya bangsa yang adil dan sejahtera.

Upaya menanggulangi
Berbagai cara dilakukan mahasiswa untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya. Berbagai kecurangan dan penyelewengan pun dilakukan demi untuk pemenuhan tujuan tersebut. Tidak ada yang salah dengan perolehan IPK 4 atau nilai 10. Nilai setinggi ini justru menjadi kebanggaan dan patut dihargai. Masalahnya adalah ketika menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai tersebut. Bila disaat belajar ia telah terbiasa dengan kebohongan dan penyelewengan, tak ayal tindakan ini akan terus berlanjut hingga ke dunia kerja.
Untuk mengubah kecenderungan ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah mengubah orientasi pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan mesti menanamkan orientasi yang benar kepada para peserta didiknya. Semua kaum terdidik harus diarahkan agar tidak hanya menjadikan nilai sebagai orientasi, tetapi untuk mengembangkannya agar menjadi kemaslahatan bagi umat. Hal ini akan mengantarkan mereka kepada kesuksesan yang sebenarnya. Setiap mahasiswa juga harus menanamkan orientasi pendidikan yang benar. Fitzhugh Dodson menyatakan “Tanpa rumusan tujuan dan perencanaan yang jelas maka langkah hidup bisa dibayangkan akan seperti nakoda yang kehilangan arah”. Berikut ini cara mengubah orientasi pendidikan (perbaikan proses pendidikan) yaitu ;
– Melibatkan mahasiswa dalam berbagai project nyata yang dapat melatih dan mendekatkan ilmu yang akan digunakan di dunia kerja pada akhirnya nanti.
– Mengembangkan kompetensi pengujian bergaya pragmatis. Lebih baik mengarahkan pada gaya pendekatan pengembangan projek atau laporan analisa
– Mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk memiliki kemampuan verbal dan tulis
– Mewajibkan mahasiswa memiliki blog untu menuliskan aktifitas, laporan tugas serta sebagai wadah membina kemampuan tulis.
– Mewajibkan mahasiswa untuk mempresentasikan projek di depan kelas sebagai Pembina kemampuan verbal. Ingat, seseorang pendiam pun bukan berarti ia memiliki kekekurangan dalam verbal

PENUTUP
Orientasi hidup mahasiswa zaman sekarang sudah berubah drastis. Cenderung bersikap materialistis, apatis dan individualis. Entah siapa yang salah, realita tersebut berkembang di zaman yang membutuhkan figur-figur baru untuk merubah dan meneruskan eksistensi bangsa. Banyak penyelewengan yang terjadi di zaman yang serba instan ini. Hal ini disebabkan karena orientasi hidup yang kehilangan arah. Mereka yang seharusnya menuntut ilmu justru hanya berorientasi pada nilai semata. Untuk mengubah kecenderungan ini, salah satu hal yang harus dilakukan adalah mengubah orientasi pendidikan itu sendiri. Lembaga pendidikan mesti menanamkan orientasi yang benar kepada para peserta didiknya.

Daftar Pustaka
Dikutip dari Pema USM. 2010. Mahasiswa yang memiliki predikat. Universitas Serambi Mekah. Aceh
Dikutip dari blog Sophiemoo. 2010. Gaya Hidup Mahasiswa Jaman Sekarang
Tim Pengajar Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik. 2011. Diktat Perkembangan Peserta Didik. Universitas Negeri Medan. Medan

PENTINGNYA ORIENTASI HIDUP YANG BAIK BAGI MAHASISWA SEBAGAI SUBJEK TERDIDIK

KONSEP HIDUP MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU


PENDAHULUAN

Konsep kehidupan manusia tentunya adalah mencari kehidupan yang lebih baik. Kehidupan secara lebih baik merupakan tujuan yang ingin dicapai oleh manusia dalam kehidupannya. Untuk mencapai hidup secara lebih baik manusia perlu untuk dibentuk atau diarahkan. Pembentukan manusia itu dapat melalui pendidikan atau ilmu yang mempengaruhi pengetahuan tentang diri dan dunianya, melalui kehidupan sosial atau polis, dan melalui agama. Konsep kehidupan ini tentunya tidak terlepas dari filsafat. Salah satunya filsafat ilmu. Filsafat ilmu memberikan perspektif yang berbeda dalam kehidupan yakni hidup yang lebih bijaksana dan lebih kritis.

Dalam paper ini saya akan membahas tentang konsep hidup manusia dalam perspektif filsafat ilmu. Dengan kata lain, konteks filsafat ilmu sebagai ilmu tentang konsep kehidupan manusia akan lebih disempitkan atau dibatasi pada kerangka berpikir pembentukan manusia yang lebih baik. Segala sesuatu tentang pandangan filsafat terhadap manusia memperoleh ilmu pengetahuan, konsep rasio dan rasa dalam kehidupan manusia, sarana berfikir ilmiah yang tentunya dipergunakan manusia, dan teori nilai. Semua bahasan ini termasuk dalam kajian filsafat ilmu. Filsafat bukanlah ilmu positif seperti fisika, kimia, biologi, tetapi filsafat adalah ilmu kritis yang otonom di luar ilmu-ilmu positif. Hal itulah yang coba saya angkat dalam paper saya kali ini.

Pengetahuan menjadi unsur yang penting dalam usaha membentuk manusia yang lebih baik. Dengan pengetahuan yang memadai manusia dapat mengembangkan diri dan hidupnya. Apa yang diketahui secara lebih umum dalam pengetahuan, dalam ilmu diketahui secara lebih masuk akal. Dalam hal ini ilmu lebih kritis daripada hanya menerima apa yang didapat dari pengetahuan. Sekalipun demikian saya megangkat pengetahuan untuk memahami hidup manusia dan secara kritis dilihat oleh ilmu. Pengetahuan yang dimaksud di sini lebih pada pengetahuan manusia tentang diri sendiri dan dunianya. Ketika manusia mengetahui dan mengenal dirinya secara penuh, ia akan hidup secara lebih sempurna dan lebih baik dalam dunia yang adalah dunianya. Berkaitan dengan itu manusia juga membutuhkan pengetahuan tentang lingkungan atau dunianya. Dengan pengetahuan yang ia miliki tentang dunia atau lingkungannya, manusia dapat mengadaptasikan dirinya secara cepat dan lebih mudah.

PEMBAHASAN

A.SEKILAS TENTANG FILSAFAT ILMU
Filsafat mengambil peran penting karena dalam filsafat kita bisa menjumpai pandangan-pandangan tentang apa saja (kompleksitas, mendiskusikan dan menguji kesahihan dan akuntabilitas pemikiran serta gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan intelektual (Bagir, 2005). Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat pengetahuan adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”. Will Duran dalam bukunya The story of Philosophy mengibaratkan bahwa filsafat seperti pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri inilah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Semua ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial bertolak dari pengembangannya sebagai filsafat.

Filsafat ilmu adalah bagian dari filsafat pengetahuan atau sering juga disebut epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yakni episcmc yang berarti knowledge, pengetahuan dan logos yang berarti teori. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh J.F. Ferier tahun 1854 yang membuat dua cabang filsafat yakni epistemology dan ontology (on = being, wujud, apa + logos = teori ), ontology ( teori tentang apa).

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa filsafat ilmu adalah dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Ini berarti bahwa terdapat pengetahuan yang ilmiah dan tak-ilmiah. Adapun yang tergolong ilmiah ialah yang disebut ilmu pengetahuan atau singkatnya ilmu saja, yaitu akumulasi pengetahuan yang telah disistematisasi dan diorganisasi sedemikian rupa; sehingga memenuhi asas pengaturan secara prosedural, metologis, teknis, dan normatif akademis. Dengan demikian teruji kebenaran ilmiahnya sehingga memenuhi kesahihan atau validitas ilmu, atau secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan. Sedang pengetahuan tak-ilmiah adalah yang masih tergolong pra-ilmiah. Dalam hal ini berupa pengetahuan hasil serapan inderawi yang secara sadar diperoleh, baik yang telah lama maupun baru didapat. Di samping itu termasuk yang diperoleh secara pasif atau di luar kesadaran seperti ilham, intuisi, wangsit, atau wahyu (oleh nabi). Dengan lain perkataan pengetahuan ilmiah diperoleh secara sadar, aktif, sistematis, jelas prosesnya secara prosedural, metodis dan teknis, tidak bersifat acak, kemudian diakhiri dengan verifikasi atau diuji kebenaran (validitas) ilmiahnya. Sedangkan pengetahuan yang pra-ilmiah, walaupun sesungguhnya diperoleh secara sadar dan aktif, namun bersifat acak, yaitu tanpa metode, apalagi yang berupa intuisi, sehingga tidak dimasukkan dalam ilmu. Dengan demikian, pengetahuan pra-ilmiah karena tidak diperoleh secara sistematis-metodologis ada yang cenderung menyebutnya sebagai pengetahuan “naluriah”.

Untuk menetapkan dasar pemahaman tentang filsafat ilmu tersebut, sangat bermanfaat menyimak empat titik pandang dalam filsafat ilmu, yaitu:
1.Bahwa filsafat ilmu adalah perumusan world view yang konsisten dengan teori teori ilmiah yang penting. Menurut pandangan ini, adalah merupakan tugas filsuf ilmu untuk mengelaborasi imphkasi yang lebih luas dari ilmu
2.Bahwa filsafat ilmu adalah suatu eksposisi dari pre-supposition dan pre disposition dari Para ilmuwan.
3.Bahwa filsafat ilmu adalah suatu disiplin ilmu yang didalamnya terdapat konsep konsep dan teori teori tentang ilmu yang dianalisis dan diklasifikasikan
4.Bahwa filsafat ilmu merupakan suatu patokan tingkat kedua. Filsafat ilmu menuntut jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan sebagai berikut:
a.Karakteristik karakteristik apa yang membedakan penyelidikan ilmiah dan tipe penyelidikan lain?
b.Kondisi yang bagaimana yang patut dituruti oleh Para ilmuwan dalam penyelidikan alam?
c.Kondisi yang bagaimana, yang harus dicapai bagi suatu penjelasan ilmiah agar menjadi benar?
d.Status kognitif yang bagaimana dari prinsip prinsip dan hukum hukum ilmiah
Objek kajian filsafat ilmu ada 3 macam, yaitu :
a.Ontologi
b.Epistemologi
c.Aksiologi

B.MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT
John Wild dalam tesisnya mengungkapkan uraiannya tentang manusia dengan menunjukkan hakekat rangkap yang dipunyai manusia. Apabila orang memperhatikan dirinya sendiri atau manusia lain, ia akan menyadari terdapat segi fisik dan segi yang tidak bersifat material, yang bersifat akali.

Manusia adalah makhluk yang bersifat material, terbukti dari keadaan dirinya yang terkena oleh perubahan dan individuasi. Selain dari itu, manusia, individu, mempunyai kualitas-kualitas fisik, seperti bangun tubuh, warna , bobot, dan menempati ruang dan waktu bersama-sama dengan segala sesuatu yang lain yang bereksistensi dan terdapat di alam.Manusia merupakan makhluk yang memiliki kompleksitas yang sangat tinggi. Kajian tentang manusia sering dilihat dari eksistensi dan aktivitasnya. Berbagai pengertian atau konsep manusia diberikan oleh berbagai ahli dari berbagai disiplin ilmu sesuai dengan sudut pandang mereka. Ada yang mengartikan manusia sebagai makhluk jasmani yang tersusun dari bahan material dari dunia organik. Pengertian lainnya adalah manusia sebagai benda/sosok atau organisma hidup yang menyatukan jasmani. Dengan demikian manusia juga memiliki kesadaran inderawi.
Pemahaman terhadap manusia juga tidak terlepas dari aktivitas kehidupannya. Untuk memahami ini, manusia harus dilihat dari sudut manusia itu sendiri. Manusia memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang terkadang membuat manusia tidak tergantung pada benda-benda yang ada di sekelilingnya. Dengan kehidupan spiritual ini mampu menggantikan peranan benda-benda atau oleh Lorenz Bagus disebutkan mampu menembus inti yang paling dalam dari benda-benda, menembusi eksistensi sebagai eksistensi dan pada akhirnya menembusi dasar terakhir dari eksistensi yang terbatas sehingga menghasilkan eksistensi absolute (mutlak). Dengan demikian manusia bergerak malampui seluruh batas-batas menuju ke arah yang tidak terbatas sehingga manusia diposisikan sebagai makhluk tertinggi dari segala makhluk hidup di dunia.

Manusia adalah makhluk yang bebas dan terikat. Suatu paradoks. Kepastian tentang kebebasan diperoleh dengan mengintensifkan kehadiran pada diri sendiri. Manusia secara spontan pun tahu tentang kebebasan karena ia hadir pada dirinya sendiri yang bertindak. Manusia bebas untuk memilih sekaligus secara kodrati terdorong untuk menuju diri yang sejati. “Jadilah diri yang sejati”. Inilah seruan yang mengikat tiap manusia secara etis. Seruan itu bersifat paradoksal. Seruan dihayati sebagai suatu keharusan, namun harus dilaksanakan secara bebas.

Secara negatif kata “bebas” berarti tidak ada paksaan. Paksaan bisa menyangkut fisik, psikologis, sosial, histories, dan sebagainya. Semua faktor tersebut ikut menentukan kelakuan manusia. Jika faktor-faktor itu menentukan kelakuan secara menyeluruh, maka tindakan tidak lagi disebut bebas. Inti dan hakikat kebebasan ialah bahwa penentuan datang dari diriku sendiri. Maka, hakikat kebebasan adalah penentuan diri (self determination).

Manusia mempunyai tiga aspek yang berbeda dengan binatang: terikat pada indera, pada bahasa, dan pada praksis.
•Indera
Pengetahuan indrawi pada manusia tidak berbeda dari pengetahuan indrawi hewan.
Kenyataannya sungguh berbeda. Pengetahuan sensitif/inderawi menekankan fakta bahwa pengetahuan manusia memiliki komponen atau dimensi sensitif/inderawi. Pengetahuan intelektif menekankan fakta bahwa pengetahuan manusia yang sama “merasionalisasikan” atau “mengkonsepkan” kenyataan.
•Bahasa
Bahasa memungkinkan manusia yang diajak bicara menjadi lebih dekat dengan apa yang dibicarakan.
•Praksis
Kebenaran tertentu tak bisa diperoleh di luar praksis: kita harus mempraktekkan suatu kebenaran untuk menangkap implikasinya dan untuk membuat kemajuan. Hal tersebut berlaku dalam pengetahuan alam ilmiah, dimana perkembangannya sangat ditentukan oleh kemajuan teknik.

C.KONSEP KEHIDUPAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU
1.Manusia dan Pengetahuan
Sebagai makhluk yang paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan yang lainnya, manusia diberi oleh Tuhan kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya yaitu akal dan daya nalar. Kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar itu dimungkinkan pada manusia karena ia memiliki susunan otak yang paling sempurna dibandingkan dengan otak berbagai jenis makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu terus berusaha untuk menambah dan mengumpulkan llmu pengetahuannya.

Ilmu pengetahuan yang didapatkan adalah untuk memelihara bumi ini dari segala kerusakan, karena manusia diutus untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dari pengalaman yang didapatkannya (empiris) dan juga logika yang mereka miliki (rasional) dari pengalaman tersebut manusia terus-terusan mengolahnya dengan cara berpikir sehingga menghasilkan suatu ilmu pengetahuan. Manusia yang cerdas akan mampu menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola muka bumi ini. Namun, tidak selamanya pengetahuan yang diperoleh manusia ini bermanfaat, ada juga pengetahuan yang ternyata menimbulkan suatu permasalahan ataupun mudarat.

Di dalam Islam, orang-orang yang berilmu dan beriman akan mendapat martabat yang tinggi di sisi Allah swt, kekayaan terbesar dalam islam adalah pengetahuan dan hikmah maka doa yang dimintakan Allah agar kita mohonkan kepada-Nya ialah untuk menambah pengetahuan. Oleh karena itu, dalam Islam menuntut ilmu hukumnya wajib sehingga dapat menyebarluaskan ilmu tersebut kepada orang lain. Di dalam hidup agar dapat membuat keputusan yang benar juga harus diiringi dengan pengetahuan sehingga terwujud kehidupan yang baik. Pengelolaan sumber daya alam juga harus diiringi dengan pengetahuan yang memadai untuk pemanfaatan yang benar dan sebagai pengelola bumi yang baik harus tak henti-hentinya belajar, karena ilmu pengetahuan itu berubah. Ada yang ternyata salah dan harus dibuang dan ada pula yang harus ditambahkan.

Kemampuan manusia dalam mengembangkan pengetahuan tidak lepas dari kemampuan menalar. Manusia satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan. Namun pengetahuan ini terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival). Manusia mengembangkan pengetahuan bukan hanya sekadar untuk kelangsungan hidup, tetapi dengan memikirkan hal-hal baru manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, dengan kata lain semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekadar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi.

Pengetahuan mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua, manusia mempunyai kemampuan berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu yang disebut penalaran. Kedua hal inilah yang memungkinkan manusia mengembangkan pengetahuannya. Manusia berpikir karena memiliki akal. Manusia memiliki kemampuan untuk membuat dan mengambil keputusan. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Manusia dapat mengambil keputusan terletak pada kemampuan manusia untuk berpikir dan bernalar, sedangkan kemampuan berpikir dan bernalar itu dimungkinkan pada manusia karena ia memiliki susunan otak yang paling sederhana dibanding dengan otak berbagai Jenis makhlik hidup lainnya. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang baru. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama, maka kegiatan berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itupun berbeda-beda karena masing-masing mempunyai yang disebut dengan kriteria kebenaran yang merupakan suatu proses penemuan kebenaran tersebut. Manusia berpikir dan bernalar untuk mengumpulkan pengetahuan yang tersembunyi di alam raya ini. Proses mengumpulkan pengetahuan merupakan suatu proses belajar yang dialami manusia sejak ia lahir hingga ke liang lahat. Kemudian pengetahuan yang dikumpulkan manusia melalui penggunaan akalnya disusun menjadi suatu bentuk yang berpola.

Dengan berpikir, manusia berkesempatan mendapatkan pendidikan membentuk sistem kekeluargaan yang akhirnya terbentuk manusia yang cerdas sehingga dapat bermasyarakat dengan baik. Tanpa kecerdasan yang bersumber dari kemampuan berpikir, manusia tidak mampu menggali kumpulan pengetahuan yang diperlukan untuk mengelola bumi dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.

Jika berpikir dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan pengetahuan dan juga ilmu. Namun disini terdapat perbedaan antara ilmu dan juga pengetahuan yang didapatkan oleh manusia.

Pengetahuan adalah suatu hasil dari pengamatan dan juga pengalaman yang dirasakan oleh panca indra, sehingga kita menjadi tahu dan bagian dari pengetahuan adalah ilmu. Ilmu adalah hasil dari proses berpikir dengan pertanyaan “Bagaimana hal itu bisa terjadi?” dengan pertanyaan itu maka manusia akan berusaha untuk melakukan sebuah penelitian sehingga akan mendapatkan kesimpulan atau dengan kata lain ilmu adalah pengetahuan yang didapat melalui proses tertentu. Akibatnya adalah bahwa teori-teori kelimuan tidak merupakan kebenaran yang pasti. Apa yang mampu dilakukan ilmu, dan apa yang sebenarnya memang dilakukan ilmu, semuanya hanyalah bersifat kemungkinan (peluang). Ilmu memberi kita tambahan terhadap uraian gejala yang diamati, pernyataan yang bersifat peluang.
2.Implikasi Rasio dan Rasa dalam Kehidupan Manusia
2.1.Proses Pengembangan Rasio dan Rasa
Pemisahan diri sendiri merupakan suatu proses yang luar biasa sulit dan pahit. Belajar berkaca kepada diri sendiri, melihat keburukan diri sendiri, kecacatan yang dimiliki oleh diri sendiri, kemudian belajar mengakui bahwa diri ini tidak sempurna. Hal ini merupakan perjalanan yang panjang dan tidak sederhana. Benih-benih kerapuhan mulai datang dan menghantui. Kegamangan atas pengenalan diri sendiri yang selama ini bernilai tinggi mulai perlahan dipertanyakan oleh satu pribadi. Perasaan ditinggal oleh suatu lingkungan yang dibangun oleh diri sendiri mulai timbul. Pertanyaan tentang apa yang sebenarnya sedang dilakukan, diimpikan dan ingin dicapai mulai timbul disertai dengan kritikan pedas terhadap diri sendiri. Menggoyahkan kepercayaan diri sendiri. Membangun benteng baru yang pada akhirnya harus dihancurkan oleh diri sendiri. Kompleksitas rasio dan rasa. Siklus detoksivikasi oleh diri sendiri dan lingkungan. Terus berputar dan hanya diakhiri dengan rem usia. Saat menutup mata, saat siklus berakhir, benih siklus baru yang telah disebar tumbuh sesuai pupuk yang kerap ditabur.
Saat bergumul dengan kenaikan tingkat atau level penuaan, seluruh kompleksitas dan siklus yang ada terasa kian menunjukkan diri. Sejenak, kelumpuhan fisik menyerang. Hanya otak yang terus berputar dalam putaran awan yang itu-itu saja. Namun kreativitas dan target mimpi menjadi remnya. Fokus menjadi obat penawarnya. Saat semua membaur. Kemampuan untuk mengalah pada galaknya visi dan kehendak, menjadi jawaban atas semua pertanyaan. Saat semua terlihat berbayang, rasa mulai limbung, rasio dan hikmat menjadi penunjuk jalan. Jika jalan ini menghadapi kebuntuan, pasti ada jalan lain, mari mencarinya. Mulai dari awal jika memang itu perlu.
2.2. Hubungan Rasio dan Rasa dalam Kehidupan Manusia
Salah satu ciri atau sifat manusia adalah keingintahuannya terhadap apa yang ditanggapi oleh panca indera, terutama indera penglihatan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah diberi potensi melalui rasio (potensi akal) dan rasa (kalbu). Rasio adalah kemampuan manusia yang bertumpu pada akal, menolak sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan akaliah (logika). Soewardi (1999: 275) mengemukakan ilmu rasio atau nomotetikal berlandaskan hukum-hukum sebab-akibat:sebab akibat ini juga disebut kausalitas. Kausalitas adalah keperilakuan jagat raya dan juga keperilakuan manusia. Kausalitas disebut pulasunnatullah, ketetapan Tuhan sebagaimana telah dijelmakan di jagat raya. Sunnatullah merupakan ketetapan yang abadi, yang menjadi pegangan bagi manusia dalam melaksanakan perintah-perintah Allah. Misalnya, hubungan kausalitas dapat terlihat pada kenyataan yang ada di sekitar kita, ada asap pasti ada api, jika air dipanaskan akan menguap, dan kayu kering akan terbakar jika dikenai api. Segala sesuatunya selalu ada hubungan kausalitas. Akan tetapi, bagaimana cara mengambil suatu simpulan mengenai suatu kenyataan yang tidak selalu memiliki hubungan kausalitas, misalnya Nabi Ibrahim a.s yang dibakar dengan api, tetapi tidak terbakar hangus, melainkan merasa sejuk saat dibakar. Di sini dapat terlihat keterbatasan manusia di sisi-Nya. Ini disebabkan oleh kemampuan manusia yang dapat disketsa dengan satu tanda titik kecil, sedangkan jagat raya sangat luas. Sulit sekali untuk mengungkap setiap rahasia jagat raya dengan keterbatasan pada diri manusia.
Dalam perkembangannya rasio selalu mendominasi dalam perkembangan pengetahuan sains. Pengetahuan sains merupakan suatu hal yang rasional dan empiris. Sesuatu dapat dikatakan rasional apabila dapat diterima oleh akal pemikiran manusia yang didasarkan pada rasio. Corak berpikir yang dipengaruhi oleh unsur-unsur logis seperti ini di dalam filsafat dikenal sebagai rasionalisme. Aliran yang memandang bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Oleh karena itu, rasio dianggap sebagai alat yang penting dalam memperoleh dan menguji pengetahuan. Sehingga ada sebagian yang menyatakan bahwa rasio sebagai suatu potensi akal menjadi sumber kebenaran yang mengatur manusia dan alam. Jadi, sesuatu yang masuk akal (logis) dianggap benar dan sesuatu yang di luar dari akal (tidak logis) dianggap tidak benar (salah).
Perkembangan ilmu yang didominasi oleh rasio dikenal dalam ilmu di Barat (modern). Ilmu yang memisahkan diri dari rasa. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Soewandi (1999: 275). Ilmu Barat atau modern hanya mengakui rasio yang menghasilkan ilmu nomotetikal. Ilmu normatif dianggap tidak boleh mencampuri ilmu nomotetikal. Inilah yang oleh Weber disebut etis netral. Bila keduanya itu bercampur (confused), simpulan yang ditarik akan kabur. Ilmu nomotetikal adalah ilmu yang ‘lugas-formal’.
Cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab-akibat atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sains adalah tidak ada kejadian tanpa sebab. Bakhtiar (dalam Kusasi, 2005: 4) menyatakan mengenai keberadaan asumsi ini yang dianggap benar apabila sebab-akibat memiliki hubungan yang rasional. Jadi, antara ilmu dan rasio memiliki kaitan yang sangat erat, apalagi di dalam ilmu Barat. Sain dianggap sebagai hasil dari potensi akal. Dalam hal ini sain terlepas dari rasa karena sain tidak memberikan nilai baik atau buruk, pantas atau tidak pantas, sopan atau tidak sopan, indak atau jelek. Sain hanya memberikan nilai benar atau salah.
Manusia yang diberi potensi akal (rasio) dan potensi kalbu (rasa) oleh Tuhan, akan membantunya untuk mengetahui dan memahami alam semesta meski masih dengan cara yang sederhana. Keduanya harus digunakan secara seimbang untuk meningkatkan kesejahteraan. Oleh karena itu, rasio harus diimbangi pula dengan rasa dalam kaitannya dengan ilmu.
3.Manusia, Bahasa dan Kebudayaannya
Bahasa bukan saja merupakan property yang ada pada diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang didalamnya terkandung makna. Dari sudut wacana, makna tidak pernah bersifat absolute, selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu pada tanda-tanda kehidupan manusia yang didalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya.
Dalam analisis semantik, Abdul Chaer mengatakan bahwa bahasa itu bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya, maka analisis suatu bahasa hanya akan berlaku untuk bahasa itu saja, tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa lain. Umpamanya kata ikan dalam bahasa Indonesia merujuk kepada jenis binatang yang hidup dalam bahasa Inggris sepadan dengan Fish; dalam bahasa banjar disebut iwak. Namun, kata iwak dalam bahasa Jawa bukan berarti ikan atau fish, melainkan daging yang digunakn sebagai lauk (teman makan nasi). Malah semua lauk seperti tahu dan tempe sering juga disebut iwak.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Semua ini karena bahasa tiu adalah produk budaya dan sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan. Dalam budaya masyarakat Inggris yang tidak mengenal nasi sebagai makanan pokok, hanya ada kata rice untuk menyatakan nasi, beras, gabah dan padi. Karena itu, kata rice pada konteks tertentu berarti nasi pada konteks lain bearti gabah, padi atau beras pada konteks lain pula. Lalu karena makan nasi bukan merupakan kebudayaan Inggris, maka dalam bahasa Inggris dan juga bahasa lain yang masyarakatnya tidak bebbudaya makan nasi tidak ada yang menyatakan lauk atau iwak (bahasa Jawa). Contoh lain dalam budaya Inggris pembedaan kata saudara (orang yang lahir dari rahim yang sama) berdasarkan jenis kelamin; brother and sister. Padahal budaya Indonesia membedalkan berdasarkan usia: yang lebih tus disebut kakak dan yang lebih muda disebut adik. Maka itu brother dan sister dalam bahasa Inggris bisa berarti kakak dan bisa juga adik.
4.Manusia dan Sarana Berfikir Ilmiah (Bahasa, Statistika, Matematika)
4.1. Bahasa
Bahasa memegang peranan penting dan suatu hal yang lazim dalam hidup dan kehidupan manusia. Kelaziman tersebut membuat manusia jarang memperhatikan bahasa dan menganggapnya sebagai suatu hal yang biasa, seperti bernafas dan berjalan. Menurut Ernest Cassirer, sebagaimana yang dikutip oleh Jujun, bahwa keunikan manusia bukanlah terletak pada kemampuan berpikir melainkan terletak pada kemampuan berbahasa (Jujun S. Suriasumantri dalam bakhtiar, 2010:175). Berpikir sebagai proses berkerjanya akal dalam menelaah sesuatu merupakan ciri hakiki manusia. Hasil kerjanya dinyatakan dalam bentuk bahasa. Bahasa adalah suatu simbol-simbol bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh suatu kelompok sosial sebagai alat berkomunikasi (Bloch dan trager dalam buku bakhtiar 2004:176).
Untuk menelaah bahasa ilmiah perlu dijelaskan tentang pengolongan bahasa. Ada dua pengolongan bahasa yang umumnya dibedakan yaitu:
1.Bahasa alamiah, bahasa alamiah dibedakan menjadi dua bagian yaitu bahasa isyarat dan bahasa biasa
2.Bahasa buatan adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akar pikiran untuk maksud tertentu. Bahasa buatan dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bahasa istilah dan bahasa artificial.
Contoh sarana berfikir ilmiah dalam bahasa yaitu :
•Bahasa istilah, bahasa ini rumusanya diambil dari bahasa biasa yang diberi arti tertentu, misal demokrasi (demos dan kratien)
4.2. Matematika
Matematika adalah bahasa yang melambaikan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Bahasa matematika sangat erat kaitannya dalam kehidupan manusia. Lambang-lambang matematika bersifat “artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya. Tanpa itu maka matematika hanya merupakan kumpulan rumus-rumus yang mati. Bahasa verbal mempunyai beberapa kekurangan yang sangat mengganggu. Untuk mengatasi kekurangan kita berpaling kepada matematika.Matematika adalah bahasa yang berusaha menghilangkan sifat kabur, majemuk dan emosional dari bahasa verbal.
Contoh sarana berfikir ilmiah matematika yaitu :
•Umpamanya kita sedang mempelajari kecepatan jalan kaki seorang anak maka objek “kecepatan jalan kaki seorang anak” dilambangkan x, dalam hal ini maka x hanya mempunyai arti yang jelas yakni “kecepatan jalan kaki seorang anak”. Demikian juga bila kita hubungkan “kecepatan jalan kaki seorang anak” dengan obyek lain misalnya “jarak yang ditempuh seorang anak” yang kita lambangkan dengan y, maka kita lambangkan hubungan tersebut dengan z = y / x dimana z melambangkan “waktu berjalan kaki seorang anak”. Pernyataan z = y / x tidak mempunyai konotasi emosional, selain itu bersifat jelas dan spesifik.
4.3. Statistika
Secara etimologi, kata statistik berasal dari kata status (bahasa latin) yang mempunyai persamaan arti dengan state (bahasa Inggris) yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan negara. Pada mulanya kata statistik diartikan sebagai “kumpulan bahan keterangan (data), baik yang berwujud angka (data kuantitatif) maupun yang tidak berwujud angka (data kualitatif), yang mempunyai arti penting dan kegunaan bagi suatu negara”. Namun pada perkembangan selanjutnya, arti kata statistik hanya dibatasi dengan kumpulan bahan keterangan yang berwujud angka (data kuantitatif saja) (Anas Sudiono dalam bakhtiar, 2010, 198).
Statistika erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Menurut (Sudjana 1996 : 3) statistika adalah pengetahuan yang berhubungan dengan cara-cara pengumpulan data, pengelolaan atau penganalisiannya dan penarikan kesimpulan berdasarkan kumpulan data dan penganalisisan yang dilakukan. Jadi statistika merupakan sekumpulan metode dalam memperoleh pengetahuan untuk mengelolah dan menganalisis data dalam mengambil suatu kesimpulan kegiatan ilmiah. Untuk dapat mengambil suatu keputusan dalam kegiatan ilmiah diperlukan data-data, metode penelitian serta penganalisaan harus akurat.
Contoh sarana berfikir ilmiah statistika yaitu :
•Pengujian statistik mampu memberikan secara kuantitatif tingkat kesulitan dari kesimpulan yang ditarik tersebut, pada pokoknya didasarkan pada asas yang sangat sederhana, yakni “makin besar contoh yang diambil makin tinggi pula tingkat kesulitan kesimpulan tersebut. Sebaliknya, makin sedikit contoh yang diambil maka makin rendah pula tingkat ketelitiannya”. Karakteristik ini memungkinkan kita untuk dapat memilih dengan seksama tingkat ketelitian yang dibutuhkan sesuai dengan hakikat permasalahan yang dihadapi.

PENUTUP

A.KESIMPULAN
Manusia dalam konsep kehidupannya, mengembangkan pengetahuan tidak lepas dari kemampuan menalar. Manusia satu-satunya makhluk yang mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan. Namun pengetahuan ini terbatas hanya untuk kelangsungan hidupnya (survival). Manusia mengembangkan pengetahuan bukan hanya sekadar untuk kelangsungan hidup, tetapi dengan memikirkan hal-hal baru manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan, dengan kata lain semua itu pada hakikatnya menyimpulkan bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan yang lebih tinggi dari sekadar kelangsungan hidupnya. Inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuannya dan mendorong manusia menjadi makhluk yang bersifat khas di muka bumi.

Salah satu ciri atau sifat manusia adalah keingintahuannya terhadap apa yang ditanggapi oleh panca indera, terutama indera penglihatan. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan telah diberi potensi melalui rasio (potensi akal) dan rasa (kalbu). Rasio adalah kemampuan manusia yang bertumpu pada akal, menolak sesuatu yang tidak masuk dalam perhitungan akaliah (logika). Manusia yang diberi potensi akal (rasio) dan potensi kalbu (rasa) oleh Tuhan, akan membantunya untuk mengetahui dan memahami alam semesta meski masih dengan cara yang sederhana. Keduanya harus digunakan secara seimbang untuk meningkatkan kesejahteraan. Oleh karena itu, rasio harus diimbangi pula dengan rasa dalam kaitannya dengan ilmu.

Bahasa bukan saja merupakan property yang ada pada diri manusia yang dikaji sepihak oleh para ahli bahasa, tetapi bahasa juga alat komunikasi antar persona. Komunikasi selalu diiringi oleh interpretasi yang didalamnya terkandung makna. Dari sudut wacana, makna tidak pernah bersifat absolute, selalu ditentukan oleh berbagai konteks yang selalu mengacu pada tanda-tanda kehidupan manusia yang didalamnya ada budaya. Karena itu bahasa tidak pernah lepas dari konteks budaya dan keberadaannya selalu dibayangi oleh budaya. Jika ditinjau dari sarana berfikir ilmiah, manusia memiliki 3 sarana berfikir ilmiah yaitu bahasa, matematika dan statistika.

B.SARAN
1.Semoga dengan adanya paper ini diharapkan dapat memperkaya khazanah ilmu bagi pembaca
2.Perlunya kajian lebih dalam bagi pembaca tentang konsep hidup manusia dalam perspektif filsafat ilmu
3.Perlunya referensi yang memadai jika ingin menganalisa hal yang sama (bagi peneliti lain)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal. 2009. Esensi Manusia Menurut Sejumlah Aliran Dalam Filsafat. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Bagus, Lorenz. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.
Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Grafindo Persada
Dikuti dari blog Akun. 2010. Fungsi Filsafat Dalam Kehidupan. Multiply
Dikutip dari blog Anak Sastra. 2011. Hubungan Bahasa dengan Budaya. Blogspot
Dikutip dari blog Jasmine. 2010. Rasio dan Rasa. Blogspot
Dikutip dari Kompasiana. 2011. Kehidupan dan Daya Manusia dalam Konteks Filsafat. Jakarta
Dikutip dari blog Leonardo Ansis. 2011. Filsafat sebagai Ilmu tentang Kehidupan Manusia. WordPress
Dikutip dari portal Universitas Pattimura. 2011. Filsafat Ilmu. Semarang
Dikutip dari blog Resty. 2011. Makalah Filsafat Ilmu dan Sains. WordPress
Dikutip dari blog Reza A.A Wattimena. 2012. Filsafat, Ilmu Pengetahuan, dan Demokrasi Kita. Surabaya: WordPress
Dikutip dari Wikipedia Bahasa Indonesia. 2012. Filsafat Ilmu. Jakarta
Endang Saefuddin Anshari. 1982. Ilmu, Filsafat, dan Agama. Surabaya: Grasindo
Hardiman, F.Budi. 2004. Filsafat Modern. Jakarta: Gramedia Susanto A. 2010. Filsafat Ilmu suatu Kajian dalam Dimensi Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis. Jakarta: Bumi Aksara
Nur Ahmad Fadhil Lubis. 2001. Pengantar Filsafat Umum. Medan: IAIN Press
Sumantri, Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Suriasumantri, J.S. 1995. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia
Suriasumantri, J.S. 2001. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Surip Muhammad, Mursini. 2010. Filsafat Ilmu Pengembang Wawasan Keilmuan Dalam Berfikir Kritis. Medan: Citra Pustaka
The liang gie. 1996. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty
Wattimena, Reza A.A. 2008. Filsafat dan Sains Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia