PERS MAHASISWA DIBALIK TEMBOK BIROKRASI


Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) yang dikeluarkan Soeharto pada masa orde baru sepertinya tidak mampu memberanguskan pers pancasila. Terbukti masih melenggang bebasnya pers mahasiswa pada rezim itu. Kondisi ini dimanfaatkan betul oleh aktivis kampus untuk mendobrak kebijakan yang salah sebagai satu bentuk penyuaraan kebenaran. Tentunya belum lekang dari ingatan kita bagaimana peran mahasiswa atau lebih tepatnya pers mahasiswa sebagai agen perubahan dengan vocal memaksa Soeharto turun dari kursi empuknya. Sepertinya kekuatan mahasiswa memang luput dari pandangan Soeharto pada masa itu.

Pers Mahasiswa sendiri sudah ada sejak zaman sebelum kemerdekaan, perkembangannya kian pesat di era 2000. Sekarang hampir disetiap universitas bisa kita temukan pers mahasiswa. Hadirnya sudah menggurita. Tidak hanya satu lembaga pers mahasiswa bahkan lebih di setiap satu universitas. Namun, perkembangan ini tidak sejalan dengan apa yang dicita-citakan pers mahasiswa. Mengapa?

Ada 3 pilar utama yang harus dimiliki insan pers mahasiswa, yang pertama yaitu idealisme. Idealisme disini bearti cita-cita. Sesuatu yang berusaha untuk dijangkau dalam mewujudkan kebenaran. Cita-cita ini harusnya tidak pernah diam menanggapi realita sekitarnya, menuangkan segala kegelisahan dalam bentuk yang dibenarkan untuk menyoroti kebijakan-kebijakan akademik yang tentunya akan beresiko. Kedua yaitu Profesionalisme. Profesionalisme artinya pers mahasiswa dituntut memiliki kompetensi yang didasarkan pada kode etik jurnalistik. Kompetensi ini terdiri atas kesadaran, pengetahuan dan kemampuan. Penguasaan terhadap ketiga kompetensi inilah yang mengantarkan pers mahasiswa menuju derajat profesionalnya. Terakhir yang ketiga yaitu Komersialisme atau diversifikasi produk. Sebagai lembaga penerbitan, pers mahasiswa hendaknya merujuk kepada prinsip ekonomi dan efektivitas. Walau tidak mungkin memetik untung yang besar, setidaknya bisa menghindari kerugian. Menyajikan berita-berita yang menarik dan aktual tentunya akan meningkatkan kuantitas penjualan, menggaet para sponsorship, serta mengajak para wirausaha untuk mempromosikan bisnisnya juga merupakan beberapa solusi yang cerdas.

Sayangnya ketiga pilar ini sudah tidak diterapkan lagi di pers mahasiswa. Nilai-nilai yang ada pada kode jurnalistik sepertinya juga mulai luntur. Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan pers mahasiswa terhadap birokrasi. Tentunya ini menciptakan belenggu tersendiri bagi pers mahasiswa. Keganasan pena pers kampus pun terlihat menurun dengan memberikan wacana yang biasa. Hal ini menegaskan opini bahwa pers mahasiswa hanya sekedar wadah mahasiswa yang ingin belajar dan menyalurkan hobinya dalam tulis-menulis. Bukan hal ini yang kita inginkan!. Opini tadi harusnya bisa membangkitkan gairah insan pers mahasiswa untuk lebih meningkatkan kualitas individunya yang memang dituntut memberikan sumbangan mendidik bagi khalayak pembacanya. Idealisme dan profesionalisme yang menjadi pilar bagi insan pers harusnya sudah tertanam agar pola pikir kita semakin terbuka. Apalagi jika berita-berita yang disajikan harus lolos sensor dari birokrasi. Hal inilah yang sering terjadi di hampir setiap pers kampus di tiap universitas. Tentunya ini akan mengekang kebebasan kita. Mengingat pers mahasiswa merupakan sarana pembangun rasio komunikatif masyarakat. Apakah harus seperti ini selamanya? Disini waktunya kita bersikap bijak dan profesional mengaplikasikan solusi untuk melepaskan diri dari belenggu birokrasi tersebut.

Sebenarnya ketergantungan utama terhadap birokrasi tak lepas dari pendanaan. Meski pola pendanaan pers mahasiswa masih bergantung pada birokrasi kampus, hendaknya pers mahasiswa tetap independen. Banyak solusi cerdas yang bisa digunakan salah satunya menggandeng sponsorship. Kehadiran sponsorship tentunya akan sangat membantu. Sudah seharusnya juga pers mahasiswa mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi. Melalui itu pers mahasiswa bisa mengepakkan sayapnya ke arah yang lebih luas misalnya pers umum. Dampaknya pers mahasiswa bisa semakin gesit memberi sajian informasi kepada mahasiswa. Tentunya ini akan meningkatkan kuantitas penjualan.
Melihat perkembangan masyarakat yang berjalan ke arah keterbukaan, pers mahasiswa pun dituntut bekerja dan berkomunikasi dengan nalar yang tajam dengan sikap terbuka dalam pemikiran. Pers Kampus dinilai perlu membuka forum diskusi dalam bentuk pertemuan tulisan maupun dalam pertemuaan aktual. Misalnya menjalin kerjasama antar UKM sekitar serta melakukan diskusi rutin dengan lembaga-lembaga pers lainnya baik yang skala lokal, nasional maupun internasional. Kegiatan ini bisa menjadi wadah untuk saling curhat, berbagi ilmu dan bertukar informasi dan yang pasti agar masalah yang terjadi dapat terpecahkan dengan baik.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s