Uang Kuliah Tunggal, PERLUKAH?


Belum lekang ingatan tentang kontroversi ujian nasional, kini masyarakat Indonesia khususnya mahasiswa kembali dikagetkan dengan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT). Universitas Negeri Medan sebagai salah satu pilar pendidikan mendapati gilirannya untuk mensosialisakan uang kuliah tunggal kepada mahasiswa Jumat, 24 Mei 2013 di auditorium. Kegiatan ini disosialisasikan oleh rektor unimed dan berlangsung selama satu jam per sesi yang diikuti 2 fakultas. Banyak civitas akademik yang hadir di acara ini. Bukan hal yang baru, beberapa perguruan tinggi memang sudah menerapkan kebijakan ini walau Dirjen Dikti mengetuk palu secara resmi untuk tahun akademik 2013/2014. Hal ini senada seperti yang dituturkan bapak Prof.Dr.H.Ibnu Hajar Damanik M.Si selaku rektor Unimed “Beberapa universitas sudah menerapkan kebijakan ini, tetapi dengan nama yang berbeda”. Bapak Pembantu Rektor III Prof. Dr. Binner Ambarita M.Pd ditemui di tempat yang sama juga mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengelak dari kebijakan ini karena ini sudah ketetapan dari kemendikbud. Itu artinya UKT memang harus diterapkan dalam waktu dekat di seluruh PTN di Indonesia.

UKT merupakan kebijakan yang mengatur tentang regulasi seluruh pembayaran uang kuliah yang dibebankan kepada masyarakat untuk diringkas menjadi satu kali pembayaran tiap semester hingga lulus. Dasar hukum UKT sendiri merujuk pada UU No.12/2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 88 dan PP No.48/2008 tentang Pendanaan Pendidikan. Besaran UKT ditentukan dengan menghitung Unit Cost mahasiswa dalam satu semester. Unit Cost merupakan komponen biaya operasional yang diperlukan untuk proses pembelajaran dan utilitasnya di setiap wilayah diluar biaya investasi. Analisis ini memberi dasar formula untuk menghitung biaya pendidikan seorang mahasiswa selama mengikuti studi yang mencakup biaya langsung (gaji dan honor dosen, bahan habis pakai pembelajaran, sarana dan prasarana pembelajaran langsung) dan biaya tidak langsung (biaya SDM manajerial dan non dosen, sarana dan prasarana non pembelajaran, pemeliharaan, serta kegiatan pengembangan institusi berupa penelitian, kemahasiswaan, dan pengembangan program). Dengan formula ini diharapkan tidak ada lagi biaya tinggi untuk masuk PTN. “Pemerintah juga memberikan Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) yang tentunya ini akan sangat membantu” tutur Prof.Dr.H.Ibnu Hajar Damanik M.Si. Kalau kondisi ini yang terjadi, apakah UKT murah akan terwujud? Mengingat kemungkinan besar Unit Cost dihitung berdasarkan biaya yang sudah berjalan tahun sebelumnya yang sudah terlanjur mahal.

Indeks pengukuran UKT di tiap universitas berbeda. Unimed mengklasifikasikan mahasiswa kedalam lima kategori besaran uang kuliah berdasarkan kemampuan ekonomis yaitu tidak mampu, sedang, menengah, mampu dan sangat mampu. Parameter ini diukur berdasarkan indikator-indikator tertentu yaitu surat penghasilan orang tua serta jumlah tanggungan, data pajak bumi dan bangunan, data pajak kendaraan bermotor, data kapasitas listrik dan surat keterangan dari lurah. “Bagaimana bila terjadi perubahan kondisi keuangan mahasiswa di tiap semesternya? Apakah dia tetap di golongan saat pendataan awal?” ujar Arif Amri selaku senat mahasiswa. Tentunya ini akan menjadi masalah besar jika tidak ada badan riset yang mengobservasi langsung program ini secara berkala. Pihak universitas harusnya menyediakan lembaga atau unit yang memantau hal ini secara objektif agar sasaran diterima tepat guna. Universitas juga harus bisa menjamin bahwa tidak ada lagi kutipan-kutipan liar yang dilakukan dosen kepada mahasiswa. Bapak Prof.Dr.H.Ibnu Hajar Damanik M.Si berkata “Program ini akan dipantau secara berkala dan yang paling penting harus ada kejujuran, sehingga akan terjaring secara objektif”. Ini artinya Unimed menjamin bahwa kebijakan ini akan berjalan secara tepat.

Banyak yang mengatakan bahwa hal ini terlalu dini untuk diterapkan di tahun ini. Ditilik dari sosialisasinya yang terkesan terlalu terburu-buru. Memang hal yang paling krusial adalah bagaimana agar konsep UKT dapat tersosialisasikan dengan baik kepada masyarakat umum. Mungkin kebijaksanaan ini adalah salah satu upaya Kemendikbud memulihkan namanya yang sempat tercoreng akibat kasus Ujian Nasional. Setiap kebijakan pasti ada yang pro dan kontra, ada plus dan ada minusnya. Hendaknya kita sebagai generasi muda menanggapi kritis dengan berfikiran positif. Pahami konsepnya secara jelas untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Ini Medan Bung !!


“Berbeda-beda tetapi tetap satu jua”
Bungkusan rapi Bhineka Tunggal Ika itu hendaknya mampu menjadi pemacu motivasi keberagaman di Indonesia. Begitu banyak budaya lahir di negeri ini, begitu banyak bahasa yang ada di negeri ini. Namun semua menjadi satu dan bersatu dalam nama Indonesia. Apapun warna kulitnya, apapun bahasanya, apapun budayanya semua satu dalam naungan negeri tercinta Indonesia. Banyaknya perbedaan seharusnya menjadi pemersatu keberagaman dalam mengembangkan kreativitas bukan untuk saling menyalahkan dan saling membenarkan kepentingan masing-masing.
Medan sebagai kota majemuk yang menjadi bagian dari keberagaman di Indonesia itu memberikan pesonanya tersendiri. Teletak pada 3,300 – 340 Lintang Utara dan 98,350 – 98,440 Bujur Timur, kota Medan cenderung miring ke sebelah utara. Ketinggian Medan berada pada 2,5 – 37,5 diatas permukaan laut. Separuh daerah Medan terletak bersebelahan dengan daerah laut yaitu pantai barat belawan, dan daerah Medan tidak memiliki daerah dataran tinggi. Dataran tinggi terdekat berada di wilayah kabupaten Karo. Hal ini menjadikan daerah Medan memiliki suhu udara yang cukup panas apalagi ditambah dengan berkembangnya dunia industri dan semakin padatnya pemukiman penduduk.
Keberagaman Medan terlihat dari etnik dan budaya masyarakatnya. Hal ini tercermin dari sajian makanan yang beraneka ragam. Kelebihan itu memberi dampak positif karena citarasa makanan khasnya dapat dinikmati lidah setiap orang, bahkan pendatang. Anugerah tersebut dimanfaatkan betul oleh masyarakatnya. Hampir di setiap sudut kota kita jumpai tempat jajanan dengan konsep-konsep yang istimewa. Medan memang surganya makanan. Dimulai dari titik nol kota Medan yaitu Merdeka Walk yang menawarkan sajian aneka hidangan mulai dari makanan tradisional, barat, China bahkan India. Kalau lagi beruntung kita bisa menyantap makanan sambil ditemani bintang-bintang karena letaknya diudara terbuka.
Etnis Medan yang terdiri dari melayu, batak, jawa, minang, mandailing, china bahkan india tidak menjadikan kota ini kota yang penuh konflik. Keberagaman etnik dan kultur yang melekat di dalam struktur kehidupan masyarakat kota Medan ini menandakan bahwa Medan mampu menjadi kota metropolitan yang madani. Unsur kebersamaan dalam memajukan daerah sepertinya sudah terbiasa dilakukan masyarakat pribumi mulai dari dahulu sampai sekarang. Artinya implementasi kekerabatan dijadikan modal dalam konsep pembangunan sehingga walikota pada periode yang lalu memakai istilah “bekerja sama dan sama-sama bekerja”. Ungkapan yang sederhana tetapi cukup filosofis.
Melalui keberagaman suku, agama, ras dan antar golongan di lapisan masyarakat kota Medan telah terjalin hubungan yang harmonis. Sehingga dari beberapa kurun waktu Medan selalu kondusif. Hal ini bisa dilihat beberapa mesjid yang letaknya bersebelahan dengan gereja. Mereka beribadah tanpa menggangu atau menekan yang lain. Saling toleransi, itu kuncinya.
Perpaduan dan pencampuran gaya arsitektur kebudayaan besar dunia juga bisa kita lihat disini. Seperti istana maimon dengan nuansa melayu Eropanya, mesjid raya yang memadukan gaya Moor, India, Andalusia, dan Eropa, masjid ini juga telah menjadi salah satu ikon dari Kota Raya julukan dari kota Medan, kediaman tjong a fie yang kental dengan nuansa pecinannya, cafe tiptop, kesawan dan sebagainya. Hal ini mencerminkan betapa kekuatan kota ini bergantung kepada beragamnya bangsa yang mendiami kota. Perpaduan budaya ini pula yang membentuk watak bertahan hidup yang terkenal dari penduduk Medan. Medan kini telah berubah menjadi kota metropolis di penjuru utara Sumatera. Walaupun demikian, masyarakatnya masih mau menghargai situs-situs sejarah dimana semangat kejayaan masa lalu mengiringi degup jantung kota ini. Seperti yang sering dibilang orang Medan “Ini Medan Bung !!”.