Pemanfaatan Buah Saga sebagai Bahan Baku tempe


RINGKASAN

Tempe adalah makanan khas Indonesia. Tempe merupakan sumber protein
nabati yang mempunyai nilai gizi yang tinggi karena memiliki  kandungan protein, karbohidrat, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Pemenuhan kebutuhan kedelai di Indonesia menggunakan sistem pertanian monokultur dan impor. Sistem pertanian monokultur membawa persoalan lingkungan hidup dan modal yang tinggi. Alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati dapat memanfaatkan biji Saga pohon (Adenanthera pavonina) yang merupakan tanaman asli Indonesia.

Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripada kedelai. Bedasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati bagi penduduk Indonesia, tanpa merusak ekologi lingkungan hidupnya.

Metode penelitian yang yang digunakan pada penelitian ini adalah studi
komparasi setelah dilakukan eksperimen. Sebelum melakukan komparasi terhadap eksperimental pembuatan tempe saga oleh Rhizopus oryzae, dibuat suatu control positif berupa tempe kedelai. Gunanya untuk membandingkan hasil fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon dengan tempe kedelai yang memang sudah umum dikonsumsi.

Setelah produk tempe hasil fermentasi dari biji Saga pohon jadi, selanjutnya dilakukan studi komparatif kandungan protein dan tes organoleptik. Dalam studi komparatif kandungan kadar protein yang dibandingkan adalah waktu, warna, dan persentase protein. Sedangkan dalam tes organoleptik, penulis meminta orang lain sebagai responden untuk mencicipi tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, dan mencatat pendapat mereka kemudian menyimpulkannya.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat tempe saga adalah sebagai berikut, (1) Merendam biji saga kurang lebih 36 jam untuk memudahkan melepaskulit arinya, (2)  Setelah bersih kukus biji saga selama 30 menit, (3) setelah dikukus, buang air kukusan, tuangkan biji saga kedalam wadah lalu dinginkan, (4) Setelah dingin, taburkan ragi tempe sebanyak 2 gram lalu aduk rata, (5) masukkan biji saga kedalam plastic lalu tutup rapat dan dilubangi sedikit, (6) masukkan tempe kedalam lemari agar lebih hangat dan diamkan selama 36 jam, setelah 36 jam tempe siap diolah. Proses fermentasi Saga Adenanthera pavonina berhasil terjadi dalam
waktu 36 jam yang ditunjukkan dengan terjadinya kekompakan (menyatunya hifa
jamur Rhizopus oryzae dengan biji Saga Adenanthera pavonina). Setelah melakukan eksperimen fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon, maka perlu dilakukan studi komparatif dan tes organoleptik untuk lebih membuktikan kandungan gizi dan rasa dari tempe Saga. Untuk tes organoleptik, penulis meminta beberapa orang untuk menjadi responden dengan merasakan tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, kemudian ditanya responnya.

Dari 13 orang responden, yang mengatakan bahwa tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai sebanyak 11 orang. Sedangkan sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, dan sebanyak 5 orang berpendapat bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai. Namun, sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai. Untuk itu hendaknya masyarakat lebih dikenalkan dengan tempe Saga, sehingga minat konsumsi masyarakat menjadi lebih baik terhadap tempe saga dan Mengurangi sistem pertanian monokultur yang membahayakan ekologi lingkungan.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tempe adalah makanan khas Indonesia. Tempe merupakan sumber protein nabati yang mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi daripada bahan dasarnya. Tempe dibuat dengan cara fermentasi, yaitu dengan menumbuhkan kapang Rhizopus oryzae pada kedelai matang yang telah dilepaskan kulitnya. Tempe dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Tempe mempunyai nilai gizi yang tinggi. Tempe dapat diperhitungkan sebagai sumber makanan yang baik gizinya karena memiliki kandungan protein, karbohidrat, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Nutrisi utama yang hendak diambil dari tempe adalah proteinnya karena besarnya kandungan asam-asam amino.

Tempe merupakan salah satu produk hasil olahan kedelai (Glycine max) Pemenuhan kebutuhan kedelai di Indonesia menggunakan sistem pertanian monokultur dan impor. Akan tetapi, jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, mengakibatkan kebutuhan terhadap kedelai sebagai sumber protein nabati terpaksa harus dipenuhi dengan mengimpor ke negara lain.

Penggunaan sistem pertanian monokultur di Indonesia, yang merupakan sistem pertanian yang diadopsi dari daerah subtropis, membawa persoalan lain bagi lingkungan hidup. Pertanian monokultur kedelai membutuhkan modal yang sangat tinggi karena harus menyediakan lahan kosong yang luas, pupuk, sarana dan infrastruktur irigasi, pestisida, dan lain sebagainya. Secara ekologis, sistem pertanian monokultur juga tidak sesuai dengan prinsip pertanian di daerah tropis sehingga menyebabkan kestabilan ekosistem terganggu. Akibat sistem monokultur, banyak spesies-spesies asli (indigenous) daerah tropis baik flora maupun fauna serta mikroorganisme yang punah. Penyerapan unsur hara tertentu yang berlebihan dan terus-menerus menyebabkan terbentuknya lahan kritis. Dampak pestisida dan insektisida yang tidak ramah terhadap lingkungan juga dapat menyebabkan terakumulasinya toksin tersebut sampai taraf tropi tertinggi yaitu manusia. Dampak tersebut dapat dilihat dari meningkatnya penyakit kanker, tumor, kista rahim, dan gangguan fisiologi lainnya akhir-akhir ini.

Permasalahan kebutuhan terhadap kedelai yang tinggi dan kegagalan pertanian monokultur tersebut mendorong kita untuk mencari alternatif yang dapat memecahkan permasalahan tersebut yaitu terpenuhinya sumber protein sekaligus tidak menambah daftar persoalan bagi ekonomi maupun lingkungan dan kesehatan.

Salah satu tanaman alternatif yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah tanaman Saga pohon (Adenanthera pavonina). Saga pohon (Adenanthera pavonina) adalah pohon yang buahnya menyerupai petai (tipe polong) dengan bijinya kecil berwarna merah. Saga umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Pohon saga memiliki banyak fungsi jika dimanfaatkan bagian tubuh dari pohon tersebut misalnya kayunya yang keras sehingga banyak dipakai sebagai bahan bangunan serta mebel dan rantingnya untuk bahan kayu bakar. Daunnya dapat digunakan sebagai obat-obatan sebagai anti oksidan sedangkan bijinya dapat diolah menjadi sumber protein bagi kehidupan manusia dan dapat digunakan sebagai pakan ternak (Hau, 2006). Bijinya mengandung asam lemak sehingga dapat menjadi sumber energi alternatif (biodiesel). Dahulu biji saga dipakai sebagai penimbang emas karena beratnya yang selalu konstan. Dalam biji Saga ini sendiri terkandung protein dalam jumlah yang cukup tinggi sehingga Saga mampu memproduksi biji kaya protein serta punya ongkos produksi yang murah.

Tanaman tersebut merupakan pohon tahunan asli Asia Tenggara, India, dan Cina Selatan (Ria tan, 2001). Saga pohon (Adenanthera pavonina) berbeda dengan Saga rambat (Abrus precatorius) yang mengandung racun. Saga pohon memiliki biji yang lebih besar berwarna merah terang, dengan batang pohon yang tinggi, dan daun yang lebih lebar daripada Saga rambat. Saga rambat memiliki biji kecil berwarna merah hitam dan batang yang tumbuh merambat.

Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein serta memiliki ongkos produksi yang murah. Hal tersebut karena penanaman Saga pohon tidak memerlukan lahan khusus karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu pupuk atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah dan aman bagi lingkungan karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji Saga pohon tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman komersil lainnya.

Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindung atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat (Balai Informasi Pertanian, 1985). Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripada kedelai. Namun demikian, penggunaan biji Saga pohon sebagai tempe yang difermentasi oleh Rhizopus oryzae belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian peningkatan nilai guna biji Saga pohon sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan tempe perlu dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang jelas terhadap pemanfataan biji Saga pohon tersebut nantinya.

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati dengan memakai biji saga sebagai pengganti kedelai dalam proses pembuatan tempe bagi penduduk Indonesia, tanpa merusak ekologi lingkungan hidupnya, dengan memanfaatkan bahan yang ada dan mudah di peroleh.

GAGASAN

A.Kondisi Sekarang

Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindung atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat (Balai Informasi Pertanian, 1985). Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripadakedelai. Namun demikian, penggunaan biji Saga pohon sebagai tempe yang difermentasi oleh Rhizopus oryzae belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian peningkatan nilai guna biji Saga pohon sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan tempe perlu dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang jelas terhadap pemanfataan biji Saga pohon tersebut nantinya.

Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindung atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat. Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripada kedelai . Selain itu, biji buah saga selama ini hanya dapat dibuat sebagai hiasan saja oleh para masyarakat kebanyakan, hanya sedikit orang yang mengetahui begitu besar mannfaat buah saga sebagai sumber protein yang dapat menggantikaan kacang kedele khususnya yang saat ini sedang melonjak tinggi harganya.

B. Solusi Yang Pernah Ditawarkan Atau Diterapkan Sebelumnya Dalam Pemanfaatan Buah Saga

 

Di daerah oriental, Saga pohon dimanfaatkan untuk makanan, obat-obatan, meubel, dan kayu bakar. Bji Saga pohon yang merah terang digunakan untuk perhiasan dan kadang-kadang untuk makanan. Di Karibia, pohon Saga Adenanthera pavonina yang memproduksi biji yang merah terang ini dikenal oleh mereka sebagai “tasbih”. Mereka juga menyebutnya biji “Circassian”. Celupan merah yang mereka peroleh dari kayu tersebut digunakan oleh suku Brahmins untuk menandai dahi mereka sebagai simbol agama. Padahal Kandungan Gizi pada Saga begitu banyak. Analisa menunjukkan bahwa pada biji Saga pohon (Adenanthera  pavonina) memiliki kandungan gizi sebagai berikut, di dalam biji Saga pohon  terkandung sejumlah protein 29,44 g/100g, lemak 17,99 g/100g, dan mineral. selain itu jika kita ambil contoh dari perbandingan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan pokok saga pohon mengandung gula yang rendah (8,2 g/100 g), tajin (41,95g)/100g), dan zat penyusun lainnya adalah karbohidrat. Data ini diperoleh dari nilai gizi online yang dapat kita lihat kandungan gizi buah saga yang begitu besar.

Kandungan anti nutrisi yaitu methionine dancyst ine , yang merupakan jenis asam amino yang terdapat dalam tingkat yang rendah. Sedangkan total asam yang mengandung lemak, yaitu asamlinoceic danole ic mengandung 70,7% Jumlah asam lemak bebas yang terkandung pada Saga pohon relatif tinggi terutama peroksida dan saponification yang terkandung senilai 29,6mEqkg dan 164,1mgKOHg, hal ini menunjukkan suatu kemiripan kandungan minyak pada makanan. Dapat disimpulkan bahwa biji Saga pohon menghadirkan suatu sumber potensi minyak dan protein yang bisa mengurangi kekurangan sumber protein nabati. (Sumber:Pasific Island Ecosistems at Risk (PIER).

C.  Proses Pengolahan Buah Saga

Bahan yang digunakan pada fermentasi Rhizopus oryzae
terhadap biji Saga pohon ini adalah 2 gram ragi tempe (Rhizopus oryzae) untuk
masing-masing fermentasi kacang kedelai dan biji Saga pohon, satu kilogram
kedelai, dan satu kilogram biji Saga pohon. Sedangkan alat yang digunakan
dalam melakukan fermentasi biji Saga pohon yaitu : baskom, air, kompor, panci,
sendok, centong, plastik, pisau, rak lemari, alas kain, dan lain-lain.

 

  • Proses Pembuatan Tempe Saga

Langkah- langkah pembuatan tempe Saga adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan biji Saga pohon sebanyak 1 kilogram dan ragi tempe

sebanyak 2 gram.

  1. Mencuci bersih biji Saga pohon untuk menghilangkan kotoran pada kulit biji.
  2. Merebus terlebih dahulu biji Saga pohon selama kurang lebih 40 menit untuk

menghilangkan rasa langu.

  1. Karena kulit biji Saga pohon yang keras dan dilapisi oleh lilin yang

menyebabkan kulit biji Saga pohon kedap terhadap air dan gas, maka biji Saga pohon perlu direndam selama kurang lebih 36 jam untuk lebih memudahkan dalam melepaskan kulit arinya.

  1. Mulai meremas-remas biji Saga pohon agar kulit arinya lepas
  2. Setelah bersih, biji Saga pohon dituangkan ke dalam panci dan diberi air secukupnya, kemudian mengukus biji Saga pohon selama kurang lebih 30 menit.
  3. Setelah dikukus selama 30 menit, air yang tersisa di dalam panci dibuang, kemudian panci yang tinggal berisikan biji Saga ditaruh kembali di atas kompor sambil diaduk-aduk supaya jangan sampai hangus. Proses ini dilakukan untuk mengeringkan biji Saga pohon.
  4. Biji Saga pohon dituangkan ke wadah yang memudahkan untuk menjadi dingin.
  5. Setelah dingin, ragi tempe sebanyak 2 gram ditaburkan dan aduk rata.
  6. Menyiapkan plastik dengan ukuran sesuai selera kemudian biji Saga pohon dimasukkan ke dalam plastik hingga ketebalan kira-kira 2-3 cm
  7. Menutup plastik, dapat mempergunakan api lilin untuk menutup plastik.
  8. Plastik yang telah berisi biji Saga pohon dilubangi dengan menggunakan pisau kira-kira 8 lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.
  9. Tempe disimpan di dalam lemari dengan mempergunakan lemari dapur. Alas yang dipakai untuk menyimpan adalah rak lemari yang diganjal bagian bawahnya, sehingga ada sirkulasi udara.
  10. Tempe didiamkan selama kurang lebih 36 jam. Untuk di udara dingin, tempe kadang dibalut dengan handuk, agar lebih hangat sebelum dimasukkan ke dalam lemari.
  11. Setelah 36 jam, tempe siap diolah.

D.Hasil Dan Pembahasan

 

Dalam melakukan penelitian ini, metode yang dapat kami tawarkan dalam melakukan eksperimen ini yaitu studi komparasi setelah dilakukan eksperimen. Sebelum melakukan komparasi terhadap eksperimental pembuatan tempe berbahan baku biji Saga pohon oleh Rhizopus oryzae (untuk selanjutnya penulis istilahkan dengan tempe Saga), dibuat suatu kontrol positif berupa tempe berbahan baku kedelai (untuk selanjutnya penulis istilahkan dengan tempe kedelai). Gunanya untuk membandingkan hasil fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon dengan tempe kedelai yang memang sudah umum dikonsumsi.

Proses fermentasi Saga Adenanthera pavonina berhasil terjadi dalam
waktu 36 jam yang ditunjukkan dengan terjadinya kekompakan (menyatunya hifa
jamur Rhizopus oryzae dengan biji Saga Adenanthera pavonina). Dari hasil pengujian kandungan gizi protein terhadap tempe Saga dengan menggunakan metode titrasi formol maka didapatkan hasil kandungan protein tempe saga yang sangat besar.

Setelah melakukan eksperimen fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon, maka perlu dilakukan studi komparatif dan tes organoleptik untuk lebih membuktikan kandungan gizi dan rasa dari tempe Saga. Untuk tes organoleptik, penulis meminta beberapa orang untuk menjadi responden dengan merasakan tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, kemudian ditanya responnya.

Dari 13 orang responden, yang mengatakan bahwa tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai sebanyak 11 orang. Sedangkan sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, dan sebanyak 5 orang berpendapat bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai. Namun, sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai.

Setelah  tempe hasil fermentasi dari biji Saga pohon jadi, selanjutnya dilakukan studi komparatif kandungan protein dan tes organoleptik. Dalam studi komparatif kandungan kadar protein yang dibandingkan adalah waktu, warna, dan persentase protein. Sedangkan dalam tes organoleptik, penulis meminta orang lain sebagai responden untuk mencicipi tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, dan mencatat pendapat mereka kemudian menyimpulkannya.

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah penulis lakukan selama proses pembuatan tempe dari fermentasi biji Saga pohon oleh Rhizopus oryzae, maka penulis dapat menyimpulkannya sebagai berikut :

  • Prosedur proses fermentasi biji Saga pohon
  1. Karena kulit biji Saga pohon yang keras dan dilapisi oleh lilin sehingga bijinya kedap terhadap air, maka dalam proses perendaman dan perebusan serta pengukusannya dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan proses pembuatan tempe dari kacang kedelai.
  2. Biji Saga pohon memiliki warna yang sama dengan kacang kedelai  yaitu berwarna coklat setelah melewati proses perebusan.
  3. Bau biji Saga pohon lebih menyengat dibandingkan dengan kacang  kedelai.
  4. Namun, dalam masalah rasa biji Saga pohon tidak kalah dengan  kacang kedelai dan lebih lembut.a
  5. Bentuk biji Saga pohon terlihat agak gepeng dan lebih besar dibandingkan dengan kacang kedelai yang mempunyai biji lebih kecil dan bulat.
  • Pada saat fermentasi tempe Saga.
  1. Dalam waktu 12 jam dan 24 jam, belum terjadinya penyatuan hifa-hifa jamur dengan biji Saga pohon. Namun, setelah jam-jam berikutnya terjadi kekompakan hifa dengan biji Saga pohon. Fermentasi biji Saga pohon dengan Rhizopus oryzae berhasil terjadi.
  2. Waktu selesai terbentuknya tempe dari biji Saga pohon relatif sama dengan waktu selesainya tempe dari kedelai yaitu 36 jam.a
  • Kelebihan tempe Saga dibandingkan tempe dari kedelai.
  1. Tempe dari biji Saga pohon lebih lembut daripada tempe dari kedelai.
  2. Tempe Saga tidak cepat menjadi tempe busuk dan dapat disimpan  selama 2 minggu di dalam lemari es.
  3. Daya tahan biji Saga pohon jauh lebih kuat dan tahan lama dari biji kedelai karena bij Saga pohon dilindungi oleh kulit yang keras dan kedap air.
  • Pengujian nilai gizi dan pengujian Organoleptik
  1. Setelah dilakukan pengujian kandungan kadar protein, ternyata tempe Saga memiliki kandungan kadar protein yang cukup tinggi di dalamnya yaitu sekitar 22,41%. Sedangkan pada tempe kedelai hanya memiliki kandungan kadar protein sebanyak 18%.
  2. Dalam pengujian organoleptik secara kuantitatif, didapatkan hasil bahwa sebanyak 84,6% responden mengatakan tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai, sebanyak 76,9% responden mengatakan tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, sebanyak 38,46% responden mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai, dan sebanyak 76,9% responden mengatakan tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut.

  1. Sebaiknya pembudidayaan Saga pohon (Adenanthera pavonina) di Indonesia lebih ditingkatkan karena Saga pohon dapat dijadikan bahan alternatif pembuatan tempe yang kandungan proteinnya tidak kalah dengan kedelai.
  2. Hendaknya masyarakat lebih dikenalkan dengan tempe Saga, sehingga minat  konsumsi masyarakat menjadi lebih baik terhadap tempe Saga.
  3. Pemanfaatan lahan kritis dengan menanam pohon SagaAdenanthera  pavonina sebagai sumber pangan potensial.
  4. Mengurangi sistem pertanian monokultur yang membahayakan ekosistem  lingkungan hidup dan membutuhkan biaya yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Arnoldus Yunanta WN, Frederikus Tunjung Seta. 2009. Pedoman Penyajian Karya Ilmiah.Semarang:Undippr.http://abacus.bates.edu/~ganderso/biology/resources/writing/HTWgeneral.html

Buller H, Hoggart K. 1994a. fermentation Rhizopus oryzaeto influence Glycine max. New England J Med 256(6): 335-339.

Cahyadi, Wisnu. 2007. Kedelai Khasiat dan Teknologi. Jakarta : Bumi Aksara.hlm 56-68.

http://id.wikipedia.org/wiki/Saga_pohon

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s