Tanpa judul


Maaf, saya tidak dapat menemukan judul yang tepat
untuk untaian kalimat yang hendak saya tulis
Hari ini aku mendengar suara-suara tak bergetar seperti kemarin
getaran itu semakin lama semakin sayup… perlahan
getaran itu melemah dan berhenti
seperti denyut nadi yang takkan berhenti sampai kita mati
Jeritan itu terdengar sangat jelas
Semakin lama semakin sayup
Jika ketulusan adalah judul yang tepat kali ini
Dimana ketulusan itu sekarang ?
Adakah diantara mereka ?
Cuma kau yang bisa menjawab
Tak banyak yang mereka pinta
Hanya secuil belas kasih penuh ketulusan

Advertisements
By sitaak Posted in Puisi

Schizophrenia


Schizophrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Pada pasien penderita, ditemukan penurunan kadar transtiretin atau pre-albumin yang merupakan pengusung hormon tiroksin, yang menyebabkan permasalahan pada zalir serebrospinal. Schizophrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita schizophrenia. 75% Penderita schizophrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor. Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri.
Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala schizophreniasebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.

Gejala

Indikator premorbid (pra-sakit) pre-schizophrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi: pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi: penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku: menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
1. Gejala-gejala Positif
Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
2. Gejala-gejala Negatif
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).
Meski bayi dan anak-anak kecil dapat menderita schizophrenia atau penyakit psikotik yang lainnya, keberadaan schizophrenia pada grup ini sangat sulit dibedakan dengan gangguan kejiwaan seperti autisme, sindrom Asperger atau ADHD atau gangguan perilaku dan gangguan Post Traumatic Stress Dissorder. Oleh sebab itu diagnosa penyakit psikotik atau schizophrenia pada anak-anak kecil harus dilakukan dengan sangat berhati-hati oleh psikiater atau psikolog yang bersangkutan.
Pada remaja perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi schizophrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian schizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan schizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.
Tidak semua orang yang memiliki indikator premorbid pasti berkembang menjadi skizofrenia. Banyak faktor lain yang berperan untuk munculnya gejala schizophrenia, misalnya stresor lingkungan dan faktor genetik. Sebaliknya, mereka yang normal bisa saja menderita schizophrenia jika stresor psikososial terlalu berat sehingga tak mampu mengatasi. Beberapa jenis obat-obatan terlarang seperti ganja, halusinogen atau amfetamin (ekstasi) juga dapat menimbulkan gejala-gejala psikosis.
Penderita schizophrenia memerlukan perhatian dan empati, namun keluarga perlu menghindari reaksi yang berlebihan seperti sikap terlalu mengkritik, terlalu memanjakan dan terlalu mengontrol yang justru bisa menyulitkan penyembuhan. Perawatan terpenting dalam menyembuhkan penderita schizophrenia adalah perawatan obat-obatan antipsikotik yang dikombinasikan dengan perawatan terapi psikologis.
Kesabaran dan perhatian yang tepat sangat diperlukan oleh penderita schizophrenia. Keluarga perlu mendukung serta memotivasi penderita untuk sembuh. Kisah John Nash, doktor ilmu matematika dan pemenang hadiah Nobel 1994 yang mengilhami film A Beautiful Mind, membuktikan bahwa penderita schizophrenia bisa sembuh dan tetap berprestasi.

Organisasi Pendukung

Komunitas Peduli schizophrenia Indonesia (KPSI) adalah sebuah komunitas pendukung Orang Dengan schizophrenia (ODS) dan keluarganya yang memfokuskan diri pada kegiatan mempromosikan kesehatan mental bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Keberhasilan ODS dalam pemulihan sangat tergantung kepada pemahaman keluarga tentang schizophrenia.
Komunitas ini juga bertujuan memberikan informasi tentang schizophrenia yang tepat kepada masyarakat guna memerangi stigma negatif terhadap ODS. Orang Dengan Schizophrenia sama sekali tidak membahayakan, bahkan mereka sangat membutuhkan dukungan semua orang. Dengan adaptasi yang tepat, mereka juga dapat bekerja dengan baik seperti orang normal. Kegiatan penting yang dilakukan komunitas ini adalah menterjemahkan swadaya atas artikel-artikel penting tentang schizophrenia dan panduan-panduan keluarga. Kegiatan edukasi berupa kopi darat juga dilakukan untuk saling berbagi pengalaman antar keluarga maupun narasumber. Rencananya KPSI juga akan menerbitkan buku kisah sejati tentang dukungan keluarga.

Analisis Drama “Aduh” Karya Putu Wijaya Dengan Menggunakan Pendekatan Objektif


A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di dalam sastra ada sebuah hubungan yang sangat erat antara apresiasi, kajian dan kritik sastra karena ketiganya merupakan tanggapan terhadap karya sastra. Saat pembaca sudah mampu mengapresiasi sastra, pembaca mempunyai kesempatan untuk mengkaji sastra. Namun, hal ini tak sekadar mengkaji. Karena mengkaji telah menuntut adanya keilmiahan. Yaitu adanya teori atau pengetahuan yang dimiliki tentang sebuah karya. Saat Apresiasi merupakan tindakan menggauli karya sastra, maka mengkaji ialah tindakan menganalisis yang membutuhkan ilmu atau teori yang melandasinya. Tentang penjelasan mengkaji seperti yang diungkapkan oleh Aminudin (1995:39) kajian (sastra) adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antarunsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu.
Dengan adanya kajian drama inilah, peminat sastra melakukan analisis yaitu membedah karya-karya yang dibacanya. Sehingga unsur-unsur yang menyusun drama tersebut dapat diketahui. Juga rangkaian hikmah yang ada di dalamnya. Apakah ada kecenderungan penyingkapan realitas sosial oleh sang pengarang? ataukah ada hal-hal lain yang bisa pengkaji sastra temukan dari kajian tersebut? hal ini bisa dianalisis dengan beberapa pendekatan karena kajian sastra memiliki berbagai pendekatan. Pendekatan-pendekatan itu ialah Objektif (struktural atau struktural semiotik), mimesis (sosiologi sastra), ekspresif (hermeuneutik), dan pragmatik (resepsi sastra & intertekstual). Dalam makalah ini akan dilakukan pengkajian drama yaitu penulis akan mengkaji naskah drama yang berjudul ”ADUH” KARYA Putu Wijaya melalui pendekatan Objektif (struktural). Melalui pendekatan objektif, unsur-unsur intrinsik karya akan dieksploitasi semaksimal mungkin.
Putu Wijaya yang produktif ini bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya, Lahir di Puri Anom, Sarem, Kangin, Tabanan, Bali, 11 April 1944. Banyak karya-karya baik drama maupun prosa yang ia hasilkan, misalnya Dalam Cahaya Bulan Bila Malam ,Bertambah Malam, Invalid, Tak Sampai Tiga Bulan, Orang-Orang Malam, Lautan bernyanyi, Aduh, Anu, Edan, Hum-pim-pah, Dag-dig-dug, dan lain sebagainya. Gaya penulisan Putu Wijaya sangat kental sekali, ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness. Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup karena dorongan naluri yang terpendam dalam bawah sadar, lebih-lebih libido seksual yang ada dalam daerah kegelapan.

2. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam makalah ini adalah analisis drama ”ADUH” karya Putu wijaya dengan menggunakan pendekatan Objektif yaitu mengkaji dari struktur yang membangun drama, yang terdiri dari unsur intrinsik. Unsur intrinsik tersebut yaitu tema, penokohan,perwatakan, latar, alur, konflik, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.

3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui struktur dalam yang membangun drama ”ADUH” karya Putu Wijaya. Unsur dalam (unsur intrinsik) ini terdiri atas tema, penokohan, perwatakan, latar, alur, konflik, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.

B. PEMBAHASAN

1. Landasan Teori
Penulis akan menganalisis atau mengkaji drama “ADUH” dengan menggunakan pendekatan objektif. Kajian sastra adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antar unsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu (Aminuddin, 1995:39).
Drama adalah ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertujukkan di atas pentas (Zaidan, 2000). Talha Bachmid (1990:1-16), seorang doktor dalam bidang kajian drama, mengutip pendapat Patrice Pavis bahwa drama memiliki konvensi dan kaidah umum, yang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar. Yang pertama berhubungan dengan kaidah bentuk, seperti unsur alur dan pengaluran, tokoh dan penokohan, latar ruang dan waktu, dan perlengkapan. Yang kedua berkaitan dengan konvensi stilistika atau bahasa dramatik.
Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting sekaligus memiliki kaitan yang paling erat dengan teori sastra modern, khususnya teori-teori yang menggunakan konsep dasar struktur. Pendekatan objektif mengindikasikan perkembangan pikiran manusia sebagai evolusi teori selama lebih kurang 2.500 tahun. Evolusi ini berkembang sejak Aristoteles hingga awal abad ke-20, yang kemudian menjadi revolusi teori selama satu abad, yaitu awal abad ke-20 hingga awal abad ke-21, dari strukturalisme menjadi strukturalisme dinamik, resepsi, interteks, dekonstruksi, dan postrukturalisme pada umumnya.
Pendekatan objektif merupakan pendekatan yang terpenting sebab pendekatan apapun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri. Secara historis pendekatan ini dapat ditelusuri pada zaman Aristoteles dengan pertimbangan bahwa sebuah tragedi terdiri atas unsur-unsur kesatuan, keseluruhan, kebulatan, dan keterjalinan. Organisasi atas keempat unsur itulah yang kemudian membangun struktur cerita yang disebut plot.
Pendekatan objektif dengan demikian memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur,yang dikenal dengan analisis intrinsik. Unsur intrinsik yang dimaksud yaitu :
• Tema
Tema merupakan ide pokok atau permasalahan utama yang mendasari jalan cerita novel (Drs. Rustamaji, M.Pd, Agus priantoro, S.Pd)
• Penokohan
Penokohan menggambarkan karakter untuk pelaku. Pelaku bisa diketahui karakternya dari cara bertindak, ciri fisik, lingkungan tempat tinggal. (Drs. Rustamaji, M,Pd). Dalam suatu novel terdapat beberapa peran penting yaitu tokoh utama, tokoh pendamping dan lain sebagainya. Ada beberapa karakter tokoh, yaitu : protagonis (tokoh dengan berwatak baik), antagonis (tokoh dengan watak jahat), dan rigonis tokoh penengah atau pelerai konflik.
• Latar
Latar merupakan latar belakang yang membantu kejelasan jalan cerita, setting ini meliputi waktu, tempat, sosial budaya (Drs, Rustamaji, M.Pd)
• Alur / Plot
Alur / plot merupakan rangkaian peristiwa dalam novel. Alur dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu alur maju (progresif) yaitu apabila peristiwa bergerak secara bertahap berdasarkan urutan kronologis menuju alur cerita. Sedangkan alur mundur (flash back progresif) yaitu terjadi ada kaitannya dengan peristiwa yang sedang berlangsung (Paulus Tukan, S.Pd)
• Konflik
Masalah yang timbul dari tokoh dari dalam cerita. Baik itu antara diri sendiri maupun sekelompok orang.
• Amanat
Amanat yaitu suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.
• Sudut Pandang
Sudut pandang adalah kacamata si pengarang.
• Gaya Bahasa
Merupakan gaya yang dominan dalam sebuah novel (Drs. Rustamaji).
Konsekuensi logis yang timbul karena menggunakan pendekatan ini adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik, seperti aspek historis, sosiologis, politis, dan unsur-unsur sosiokultural lainnya, termasuk biografi. Oleh karena itulah, pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi, analisis ergosentris, pembacaan mikroskopi. Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dalam dengan mempertimbangkan keterjalinan antar unsur di satu pihak, dan unsur-unsur dengan totalitas dipihak yang lain.

2. Kajian Drama dan Pendekatan
Drama merupakan salah satu genre sastra. Menurut definisi, drama adalah ragam satra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertunjukkan di atas pentas (Zaidan, 2000).
Drama memiliki bentuk sendiri, saat puisi kebanyakan berbentuk monolog dan novel atau cerpen perpaduan dialog dan monolog, maka drama drama merupakan karya sastra berupa dialog. Dengan melihat naskah pun pembaca akan mengetahui bahwa karya tersebut adalah drama.
Pada kesempatan ini, penulis akan mengkaji atau menganalisis sebuah drama yang berjudul ”ADUH” karya Putu Wijaya. Dalam mengkaji ”ADUH” penulis akan menggunakan pendekatan objektif yaitu memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik (tema, penokohan, latar, alur, konflik, amanat, sudut pandang dan gaya bahasa).

3. Sinopsis ”ADUH” karya Putu Wijaya
Drama “ADUH” bercerita tentang situasi kritis dan gawat. Mereka berkejaran dengan waktu untuk mengubur satu mayat. Semua orang panik dan tak bisa berpikir jernih. Semuanya kebingungan. Saat inilah harus ada satu orang yang muncul dan memegang kendali dengan keras supaya kelompok tidak kacau. Di saat seperti ini, gaya visioner patut dibuang ke tempat sampah. Gaya otoriter lah jawaban dari situasi kondisi mencemaskan itu. Dengan memerintah “pelopor” untuk membuka jalan, meminta “salah seorang” untuk mengangkat mayat, walaupun sempat ribut sana-sini, berkelahi, dan sempat putus asa, satu masalah pun akhirnya bisa terselesaikan, yakni mayat itu akhirnya bisa dikubur.

4. Realitas di Dalam Karya ”ADUH”
Dalam analisis yang saya lakukan, saya mencoba mengangkat sebuah konteks yang ada dalam analisis struktural dalam naskah “ADUH” karya Putu Wijaya. Objek kajian yang saya angkat dari naskah drama ini adalah unsur intrinsiknya melalui pendekatan objektif, didasarkan atas pengalaman pembacaan, saya menangkap unsur-unsur yang dirasa layak untuk dikaji.
Dalam naskah drama “ADUH” karya Putu Wijaya ini, digambarkan sekelompok orang yang dihadapkan pada suatu masalah. Dimana ada seseorang yang sedang terluka meminta pertolongan. Dari sinilah awal konflik-konflik yang ada. Mereka terjerat dalam keraguan, apakah orang ini mau ditolong atau dibiarkan saja. Kalau tidak ditolong kasihan tapi kalau ditolong nanti seperti pengalaman yang dulu bahwa orang yang minta tolong hanya pura-pura malah mau berbuat jahat pada mereka. Nah, dari cerita inilah saya ingin mengetahui unsur-unsur intrinsik apa yang membangun karya drama ini hingga layak untuk dikaji melalui pendekatan objektif.

5. Analisis Drama ”ADUH” Karya Putu Wijaya Melalui Pendekatan Objektif
Drama disebut sastra tersendiri karena mamiliki konsep, kategori dan ciri khas yang membedakan dengan genre prosa dan puisi. Oleh karena itu secara konseptual selalu terkait dengan konstruksi naratif yang disampaikan melalui dialog. Sedangkan Pendekatan Objektif yaitu pendekatan yang memusatkan perhatiannya semata-mata pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik. Unsur-unsur intrinsik yaitu unsur pembangun sastra dari dalam sastra itu sendiri. Unsur-unsur yang dimaksud yaitu tema, penokohan, alur, latar, konflik, amanat, sudut pandang dan gaya bahasa. Maka, unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam drama “ADUH” karya Putu Wijaya yaitu :
a. Tema
Landasan cerita (ide struktural dalam cerita). Tema juga disebut sebagai gagasan ide atau pokok pikiran dalam suatu cerita, tema dalam sebuah cerita dapat menyampaikan amanat (pesan moral kepada pembaca). Dalam penyampaian tema pengarang tidak langsung menyebutkannya tetapi menjadi tugas pembaca untuk smencari suatu tema dalam sebuah cerita.
Tema dalam naskah drama ”Aduh” menjelaskan tentang masalah kecil yang dibesar-besarkan. Keragu-raguan yang besar yang akhirnya membuat mereka menyesal.

b. Penokohan
Tokoh adalah individu yang mengalami peristiwa atau pelaku cerita, sedangkan penokohan adalah penciptaan antara tokoh (Sudjiman, 1990 : 79 di dalam Lukman 1995 :30). Dalam suatu cerita menciptakan bermacam tokoh sesuai dengan peran dan karakternya.
Penokohan dalam drama ini tidak jelas, misalnya dalam hal penamaan tokoh, umur, dan lingkungan sosial. Semua pemain disebut dengan salah seorang, si sakit, dan yang simpati. Di sini tidak memperlihatkan watak, meskipun dialog dalam aduh secara keseluruhan merefleksikan watak orang-orang yang ada dalam kelompok. Dialog yang diucapkan tokoh-tokoh di sini bukanlah ekspresi dari watak-watak tokoh, sebab dialog dapat diucapkan siapa saja dalam kelompok itu. Tokoh protagonis dan antagonis tidak dikenal, pro dan kontra muncul secara spontan dalam kelompok, dan terhapus secara mendadak karena mencuatnya masalah yang lain. Dialog-dialog ketika si sakit bertambah parah dan seterusnya, memperlihatkan bagaimana sikap sekelompok orang itu terbentuk. Yang Simpati pada Si sakit tak dapat mempengaruhi kelompoknya untuk secepatnya menolong si sakit.
Penampilan tokoh si sakit sebagai fokus cerita. Si sakit, mayat, bau, merupakan kerangka situasi yang dikembangkan oleh pengarang yang melibatkan kelompok. Karena itu perkembangan cerita tidak berasal dari perkembangan watak tokoh-tokohnya. Cerita dikembangkan lewat kerangka situasi. Namun, dibalik itu semua saya akan coba menganalisisnya yaitu :
 Salah seorang: Waspada untuk menjaga segala tindakannya serta perilakunya, perhatian terhadap orang-orang yang ada disekitarnya, peduli dengan segala sesuatu hal yang telah terjadi, mudah mengeluh ketika menghadapi permasalahan yang rumit pada dirinya, egois karena dia tidak memperdulikan kejadian yang ada disekitarnya.
 Yang simpati: Peduli dengan nasib orang lain yang membutuhkan pertolongan, tegas untuk memecahkan permasalahan dalam ruang lingkupnya.
 Yang iri: Sirik terhadap karena merasa dirinya tidak dapat mencapai semua keinginan tersebut.
 Pemilik balsem: Terlalu percaya terhadap hal-hal yang berbau mistik, kikir pada semua orang karena dia merasa dirinya mampu melakukan segala hal.
 Pemimpin: Tegas dalam memutuskan atau menyelesaikan suatu permasalahan yang menyangkut kehidupan kelompoknya, bertanggung jawab dalam menyelesaiakan masalah yang dihadapi dalam kelompoknya, dalam sikapnya yang disiplin dia juga mudah tergoda dengan yang berbau materi.
 Perintis jalan: Bertanggung jawab atas semua tugasnya, bijaksana untuk memberikan keputusan, tegas dalam memutuskan permasalahan yamg terjadi, semangat dalam melakukan tugasnya, penakut, sombong atas perilaku yang dilakukan terhadap kelompoknya.
 Yang marah: Mudah terpancing emosinya, pintar memutarbalikkan fakta, tidak mau disalahkan.
 Yang lain: Perhatian terhadap orang lain atau peduli, bertanggung jawab.
 Yang satu: Bertanggung jawab, peduli terhadap orang lain.
 Salah Satu: Merasa rendah diri karena dirinya merasa paling bodoh dibanding teman-temannya, mudah mengeluh terhadap suatu permasalahan, tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya.
 Yang berani: Pemberani dalam mengatasi permsalahan walaupun bukan dia yang melakukannya.
c. Latar
Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, hari dan suasana dalam peristiwa. Latar dapat memberikan informasi terhadap sebuah peristiwa lengkap dengan gambaran situasinya, sehingga pembaca dapat mengetahui keadaan peristiwa dalam cerita. Melalui itu pengarang dapat memberitahukan mengenai tempat dimana suatu peristiwa terjadi juga mengenai waktu kapan peristiwa itu berlaku.
Latar dalam sebuah cerita dapat juga berupa suasana yang berhubungan dengan sikap, jalan pikiran, prasangka, maupun gaya hidup tokoh dalam peristiwa. Faktor yang demikian bersifat latar psikologis (oleh Aminudin, 1991 : 68).
 Latar tempat
Latar tempat yang digunakan dalam naskah drama ”ADUH” ini adalah pinggir jalan tempat orang-orang bekerja. Tempat terjadinya adegan dalam babak pertama adegan bisa terjadi dimana saja, misalnya terjadi di tempat terbuka, di pinggir jalan, di luar gedung/rumah dan disebuah lorong tempat mayat digotong. Tempat terjadinya mungkin di Jawa karena ada orang bertanya dalam bahasa Jawa. Namun bisa juga terjadi di tempat lain yang penduduknya ada orang Jawa. Tetapi ada orang yang mengatakan kalau ada orang ngaben yang merupakan adat Hindu-Bali, jadi mungkin juga setting tempat di Bali.
 Latar Waktu
Penunjukan waktu dipergunakan untuk pergantian adegan dan pergantian babak. Latar waktu yang digunakan dalam naskah drama “ADUH” ini adalah dari siang hingga menjelang senja sampai gelap, malam.
d. Alur
Alur yang terdapat dalam drama ini adalah alur maju. Karena mengisahkan drama dari awal cerita hingga akhir. Selain itu drama “ADUH” memperlihatkan unsur penguluran. Hal tersebut ditampilkan pada babak pertama di mana ada penonjolan rasa curiga yang berhasil menguasai kelompok itu sehingga saran agar si sakit cepat ditolong tak dihiraukan sampai akhirnya si sakit meninggal.
e. Konflik
Konflik adalah masalah yang timbul dari tokoh dari dalam cerita. Baik itu antara diri sendiri maupun sekelompok orang. Dalam naskah drama ”ADUH” ini digambarkan suatu konflik yang berawal dari pengalaman psikologis para tokoh yaitu dulu mereka pernah tertipu oleh orang yang pura-pura minta tolong kepada mereka. Mereka menolong orang tersebut namun akhirnya orang yang ditolong itu malah berbuat jahat kepada mereka.pengalaman tersebut yang membuat mereka ragu untuk menolong orang yang meminta tolong dan timbulah pedebatan-perdebatan hingga akhirnya orang yang minta tolong tersebut meninggal.
f. Amanat
Amanat yaitu suatu pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, amanat yang dapat diambil dari naskah drama ”ADUH” karya Putu Wijaya. Kita tidak boleh ragu-ragu jika ingin menolong orang dan jangan sampai terpaku oleh pengalaman masa lalu karena tidak semua orang penipu atau penjahat. Jika kita ingin menolong orang lain hendaknya dengan hati yang ikhlas dan jangan berfikiran negatif terhadap orang lain kecuali orang itu sangat mencurigakan. Naskah drama Aduh juga mengajarkan kita untuk tidak membesar-besarkan suatu masalah sampai tidak memperdulikan orang yang butuh pertolongan.
g. Sudut pandang
Sudut pandang adalah kacamata si pengarang. Sudut Pandang dalam drama ini tidak jelas, misalnya dalam hal penamaan tokoh, umur, dan lingkungan sosial. Semua pemain disebut dengan salah seorang, si sakit, dan yang simpati.
h. Gaya bahasa
Gaya bahasa merupakan gaya yang dominan dalam sebuah novel (Drs. Rustamaji). Gaya bahasa disini cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness.

C. PENUTUP

1. Simpulan
Drama adalah ragam sastra dalam bentuk dialog yang dimaksudkan untuk dipertujukkan di atas pentas. ada tiga bentuk kegiatan dalam menanggapi karya yaitu mengapresiasi, mengkaji, dan mengkritik. kajian sastra adalah kegiatan mempelajari unsur-unsur dan hubungan antar unsur dalam karya sastra dengan bertolak dari pendekatan, teori, dan cara kerja tertentu. Dan salah satu pendekatan dalam mengkaji sastra ialah pendekatan objektif. Di dalam pendekatan objektif yaitu pendekatan yang memusatkan perhatiannya semata-mata pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik. Unsur-unsur intrinsik yaitu unsur pembangun sastra dari dalam sastra itu sendiri. Unsur-unsur yang dimaksud yaitu tema, penokohan, latar, alur, konflik, amanat, sudut pandang dan gaya bahasa. Drama berjudul ”ADUH” bisa dikaji menggunakan pendekatan objektif. Dan pengkaji bisa mengetahui unsur-unsur intrinsik yang membangun karya tersebut.

2. Saran
Beberapa saran yang terhimpun saat menulis makalah ini yaitu:
1. Pembaca sastra senantiasa memperbanyak membaca karya sastra.
2. Pembaca sastra dalam mengkaji sastra harus dilengkapi teori atau referensi yang mapan.
3. Pembaca harus selalu meningkatkan kecintaan kepada karya sastra.

DAFTAR PUSTAKA

Dikutip dari http://eunikeyoanita.blogspot.com/2011/01/analisis-tokoh-dan-penokohan-drama-aduh.html
Drs. Sumiyadi, M.Hum. Bahan Kajian Drama Indonesia.
Februana, Ngarto. Skripsi Ngarto. http://www.geocities.com
Sri Maryani, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Angkatan 2007

Pemanfaatan Buah Saga sebagai Bahan Baku tempe


RINGKASAN

Tempe adalah makanan khas Indonesia. Tempe merupakan sumber protein
nabati yang mempunyai nilai gizi yang tinggi karena memiliki  kandungan protein, karbohidrat, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Pemenuhan kebutuhan kedelai di Indonesia menggunakan sistem pertanian monokultur dan impor. Sistem pertanian monokultur membawa persoalan lingkungan hidup dan modal yang tinggi. Alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati dapat memanfaatkan biji Saga pohon (Adenanthera pavonina) yang merupakan tanaman asli Indonesia.

Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripada kedelai. Bedasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati bagi penduduk Indonesia, tanpa merusak ekologi lingkungan hidupnya.

Metode penelitian yang yang digunakan pada penelitian ini adalah studi
komparasi setelah dilakukan eksperimen. Sebelum melakukan komparasi terhadap eksperimental pembuatan tempe saga oleh Rhizopus oryzae, dibuat suatu control positif berupa tempe kedelai. Gunanya untuk membandingkan hasil fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon dengan tempe kedelai yang memang sudah umum dikonsumsi.

Setelah produk tempe hasil fermentasi dari biji Saga pohon jadi, selanjutnya dilakukan studi komparatif kandungan protein dan tes organoleptik. Dalam studi komparatif kandungan kadar protein yang dibandingkan adalah waktu, warna, dan persentase protein. Sedangkan dalam tes organoleptik, penulis meminta orang lain sebagai responden untuk mencicipi tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, dan mencatat pendapat mereka kemudian menyimpulkannya.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk membuat tempe saga adalah sebagai berikut, (1) Merendam biji saga kurang lebih 36 jam untuk memudahkan melepaskulit arinya, (2)  Setelah bersih kukus biji saga selama 30 menit, (3) setelah dikukus, buang air kukusan, tuangkan biji saga kedalam wadah lalu dinginkan, (4) Setelah dingin, taburkan ragi tempe sebanyak 2 gram lalu aduk rata, (5) masukkan biji saga kedalam plastic lalu tutup rapat dan dilubangi sedikit, (6) masukkan tempe kedalam lemari agar lebih hangat dan diamkan selama 36 jam, setelah 36 jam tempe siap diolah. Proses fermentasi Saga Adenanthera pavonina berhasil terjadi dalam
waktu 36 jam yang ditunjukkan dengan terjadinya kekompakan (menyatunya hifa
jamur Rhizopus oryzae dengan biji Saga Adenanthera pavonina). Setelah melakukan eksperimen fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon, maka perlu dilakukan studi komparatif dan tes organoleptik untuk lebih membuktikan kandungan gizi dan rasa dari tempe Saga. Untuk tes organoleptik, penulis meminta beberapa orang untuk menjadi responden dengan merasakan tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, kemudian ditanya responnya.

Dari 13 orang responden, yang mengatakan bahwa tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai sebanyak 11 orang. Sedangkan sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, dan sebanyak 5 orang berpendapat bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai. Namun, sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai. Untuk itu hendaknya masyarakat lebih dikenalkan dengan tempe Saga, sehingga minat konsumsi masyarakat menjadi lebih baik terhadap tempe saga dan Mengurangi sistem pertanian monokultur yang membahayakan ekologi lingkungan.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tempe adalah makanan khas Indonesia. Tempe merupakan sumber protein nabati yang mempunyai nilai gizi yang lebih tinggi daripada bahan dasarnya. Tempe dibuat dengan cara fermentasi, yaitu dengan menumbuhkan kapang Rhizopus oryzae pada kedelai matang yang telah dilepaskan kulitnya. Tempe dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Tempe mempunyai nilai gizi yang tinggi. Tempe dapat diperhitungkan sebagai sumber makanan yang baik gizinya karena memiliki kandungan protein, karbohidrat, asam lemak esensial, vitamin, dan mineral. Nutrisi utama yang hendak diambil dari tempe adalah proteinnya karena besarnya kandungan asam-asam amino.

Tempe merupakan salah satu produk hasil olahan kedelai (Glycine max) Pemenuhan kebutuhan kedelai di Indonesia menggunakan sistem pertanian monokultur dan impor. Akan tetapi, jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, mengakibatkan kebutuhan terhadap kedelai sebagai sumber protein nabati terpaksa harus dipenuhi dengan mengimpor ke negara lain.

Penggunaan sistem pertanian monokultur di Indonesia, yang merupakan sistem pertanian yang diadopsi dari daerah subtropis, membawa persoalan lain bagi lingkungan hidup. Pertanian monokultur kedelai membutuhkan modal yang sangat tinggi karena harus menyediakan lahan kosong yang luas, pupuk, sarana dan infrastruktur irigasi, pestisida, dan lain sebagainya. Secara ekologis, sistem pertanian monokultur juga tidak sesuai dengan prinsip pertanian di daerah tropis sehingga menyebabkan kestabilan ekosistem terganggu. Akibat sistem monokultur, banyak spesies-spesies asli (indigenous) daerah tropis baik flora maupun fauna serta mikroorganisme yang punah. Penyerapan unsur hara tertentu yang berlebihan dan terus-menerus menyebabkan terbentuknya lahan kritis. Dampak pestisida dan insektisida yang tidak ramah terhadap lingkungan juga dapat menyebabkan terakumulasinya toksin tersebut sampai taraf tropi tertinggi yaitu manusia. Dampak tersebut dapat dilihat dari meningkatnya penyakit kanker, tumor, kista rahim, dan gangguan fisiologi lainnya akhir-akhir ini.

Permasalahan kebutuhan terhadap kedelai yang tinggi dan kegagalan pertanian monokultur tersebut mendorong kita untuk mencari alternatif yang dapat memecahkan permasalahan tersebut yaitu terpenuhinya sumber protein sekaligus tidak menambah daftar persoalan bagi ekonomi maupun lingkungan dan kesehatan.

Salah satu tanaman alternatif yang dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah tanaman Saga pohon (Adenanthera pavonina). Saga pohon (Adenanthera pavonina) adalah pohon yang buahnya menyerupai petai (tipe polong) dengan bijinya kecil berwarna merah. Saga umum dipakai sebagai pohon peneduh di jalan-jalan besar. Pohon saga memiliki banyak fungsi jika dimanfaatkan bagian tubuh dari pohon tersebut misalnya kayunya yang keras sehingga banyak dipakai sebagai bahan bangunan serta mebel dan rantingnya untuk bahan kayu bakar. Daunnya dapat digunakan sebagai obat-obatan sebagai anti oksidan sedangkan bijinya dapat diolah menjadi sumber protein bagi kehidupan manusia dan dapat digunakan sebagai pakan ternak (Hau, 2006). Bijinya mengandung asam lemak sehingga dapat menjadi sumber energi alternatif (biodiesel). Dahulu biji saga dipakai sebagai penimbang emas karena beratnya yang selalu konstan. Dalam biji Saga ini sendiri terkandung protein dalam jumlah yang cukup tinggi sehingga Saga mampu memproduksi biji kaya protein serta punya ongkos produksi yang murah.

Tanaman tersebut merupakan pohon tahunan asli Asia Tenggara, India, dan Cina Selatan (Ria tan, 2001). Saga pohon (Adenanthera pavonina) berbeda dengan Saga rambat (Abrus precatorius) yang mengandung racun. Saga pohon memiliki biji yang lebih besar berwarna merah terang, dengan batang pohon yang tinggi, dan daun yang lebih lebar daripada Saga rambat. Saga rambat memiliki biji kecil berwarna merah hitam dan batang yang tumbuh merambat.

Saga pohon mampu memproduksi biji kaya protein serta memiliki ongkos produksi yang murah. Hal tersebut karena penanaman Saga pohon tidak memerlukan lahan khusus karena bisa tumbuh di lahan kritis, tidak perlu pupuk atau perawatan intensif. Selain itu, hama dan gulmanya minim sehingga tidak memerlukan pestisida, jadi bersifat ramah dan aman bagi lingkungan karena dapat ditanam bersama tumbuhan lainnya. Kandungan protein yang terdapat pada biji Saga pohon tersebut juga lebih besar bila dibandingkan dengan kedelai dan beberapa tanaman komersil lainnya.

Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindung atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat (Balai Informasi Pertanian, 1985). Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripada kedelai. Namun demikian, penggunaan biji Saga pohon sebagai tempe yang difermentasi oleh Rhizopus oryzae belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian peningkatan nilai guna biji Saga pohon sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan tempe perlu dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang jelas terhadap pemanfataan biji Saga pohon tersebut nantinya.

B. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk mencari alternatif pemenuhan kebutuhan sumber protein nabati dengan memakai biji saga sebagai pengganti kedelai dalam proses pembuatan tempe bagi penduduk Indonesia, tanpa merusak ekologi lingkungan hidupnya, dengan memanfaatkan bahan yang ada dan mudah di peroleh.

GAGASAN

A.Kondisi Sekarang

Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindung atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat (Balai Informasi Pertanian, 1985). Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripadakedelai. Namun demikian, penggunaan biji Saga pohon sebagai tempe yang difermentasi oleh Rhizopus oryzae belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian peningkatan nilai guna biji Saga pohon sebagai bahan baku alternatif dalam pembuatan tempe perlu dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang jelas terhadap pemanfataan biji Saga pohon tersebut nantinya.

Di Indonesia, Saga pohon belum banyak dimanfaatkan ataupun dibudidayakan secara komersial. Tanaman tersebut biasa digunakan sebagai pelindung atau peneduh, karena pohonnya tinggi, daunnya rimbun, dan batangnya keras atau kuat. Padahal, Saga pohon seharusnya dapat menggantikan penggunaan kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tempe, karena kadar protein biji Saga pohon lebih besar daripada kedelai . Selain itu, biji buah saga selama ini hanya dapat dibuat sebagai hiasan saja oleh para masyarakat kebanyakan, hanya sedikit orang yang mengetahui begitu besar mannfaat buah saga sebagai sumber protein yang dapat menggantikaan kacang kedele khususnya yang saat ini sedang melonjak tinggi harganya.

B. Solusi Yang Pernah Ditawarkan Atau Diterapkan Sebelumnya Dalam Pemanfaatan Buah Saga

 

Di daerah oriental, Saga pohon dimanfaatkan untuk makanan, obat-obatan, meubel, dan kayu bakar. Bji Saga pohon yang merah terang digunakan untuk perhiasan dan kadang-kadang untuk makanan. Di Karibia, pohon Saga Adenanthera pavonina yang memproduksi biji yang merah terang ini dikenal oleh mereka sebagai “tasbih”. Mereka juga menyebutnya biji “Circassian”. Celupan merah yang mereka peroleh dari kayu tersebut digunakan oleh suku Brahmins untuk menandai dahi mereka sebagai simbol agama. Padahal Kandungan Gizi pada Saga begitu banyak. Analisa menunjukkan bahwa pada biji Saga pohon (Adenanthera  pavonina) memiliki kandungan gizi sebagai berikut, di dalam biji Saga pohon  terkandung sejumlah protein 29,44 g/100g, lemak 17,99 g/100g, dan mineral. selain itu jika kita ambil contoh dari perbandingan kebiasaan masyarakat mengkonsumsi makanan pokok saga pohon mengandung gula yang rendah (8,2 g/100 g), tajin (41,95g)/100g), dan zat penyusun lainnya adalah karbohidrat. Data ini diperoleh dari nilai gizi online yang dapat kita lihat kandungan gizi buah saga yang begitu besar.

Kandungan anti nutrisi yaitu methionine dancyst ine , yang merupakan jenis asam amino yang terdapat dalam tingkat yang rendah. Sedangkan total asam yang mengandung lemak, yaitu asamlinoceic danole ic mengandung 70,7% Jumlah asam lemak bebas yang terkandung pada Saga pohon relatif tinggi terutama peroksida dan saponification yang terkandung senilai 29,6mEqkg dan 164,1mgKOHg, hal ini menunjukkan suatu kemiripan kandungan minyak pada makanan. Dapat disimpulkan bahwa biji Saga pohon menghadirkan suatu sumber potensi minyak dan protein yang bisa mengurangi kekurangan sumber protein nabati. (Sumber:Pasific Island Ecosistems at Risk (PIER).

C.  Proses Pengolahan Buah Saga

Bahan yang digunakan pada fermentasi Rhizopus oryzae
terhadap biji Saga pohon ini adalah 2 gram ragi tempe (Rhizopus oryzae) untuk
masing-masing fermentasi kacang kedelai dan biji Saga pohon, satu kilogram
kedelai, dan satu kilogram biji Saga pohon. Sedangkan alat yang digunakan
dalam melakukan fermentasi biji Saga pohon yaitu : baskom, air, kompor, panci,
sendok, centong, plastik, pisau, rak lemari, alas kain, dan lain-lain.

 

  • Proses Pembuatan Tempe Saga

Langkah- langkah pembuatan tempe Saga adalah sebagai berikut:

  1. Menyiapkan biji Saga pohon sebanyak 1 kilogram dan ragi tempe

sebanyak 2 gram.

  1. Mencuci bersih biji Saga pohon untuk menghilangkan kotoran pada kulit biji.
  2. Merebus terlebih dahulu biji Saga pohon selama kurang lebih 40 menit untuk

menghilangkan rasa langu.

  1. Karena kulit biji Saga pohon yang keras dan dilapisi oleh lilin yang

menyebabkan kulit biji Saga pohon kedap terhadap air dan gas, maka biji Saga pohon perlu direndam selama kurang lebih 36 jam untuk lebih memudahkan dalam melepaskan kulit arinya.

  1. Mulai meremas-remas biji Saga pohon agar kulit arinya lepas
  2. Setelah bersih, biji Saga pohon dituangkan ke dalam panci dan diberi air secukupnya, kemudian mengukus biji Saga pohon selama kurang lebih 30 menit.
  3. Setelah dikukus selama 30 menit, air yang tersisa di dalam panci dibuang, kemudian panci yang tinggal berisikan biji Saga ditaruh kembali di atas kompor sambil diaduk-aduk supaya jangan sampai hangus. Proses ini dilakukan untuk mengeringkan biji Saga pohon.
  4. Biji Saga pohon dituangkan ke wadah yang memudahkan untuk menjadi dingin.
  5. Setelah dingin, ragi tempe sebanyak 2 gram ditaburkan dan aduk rata.
  6. Menyiapkan plastik dengan ukuran sesuai selera kemudian biji Saga pohon dimasukkan ke dalam plastik hingga ketebalan kira-kira 2-3 cm
  7. Menutup plastik, dapat mempergunakan api lilin untuk menutup plastik.
  8. Plastik yang telah berisi biji Saga pohon dilubangi dengan menggunakan pisau kira-kira 8 lubang untuk setiap sisi atas dan sisi bawah.
  9. Tempe disimpan di dalam lemari dengan mempergunakan lemari dapur. Alas yang dipakai untuk menyimpan adalah rak lemari yang diganjal bagian bawahnya, sehingga ada sirkulasi udara.
  10. Tempe didiamkan selama kurang lebih 36 jam. Untuk di udara dingin, tempe kadang dibalut dengan handuk, agar lebih hangat sebelum dimasukkan ke dalam lemari.
  11. Setelah 36 jam, tempe siap diolah.

D.Hasil Dan Pembahasan

 

Dalam melakukan penelitian ini, metode yang dapat kami tawarkan dalam melakukan eksperimen ini yaitu studi komparasi setelah dilakukan eksperimen. Sebelum melakukan komparasi terhadap eksperimental pembuatan tempe berbahan baku biji Saga pohon oleh Rhizopus oryzae (untuk selanjutnya penulis istilahkan dengan tempe Saga), dibuat suatu kontrol positif berupa tempe berbahan baku kedelai (untuk selanjutnya penulis istilahkan dengan tempe kedelai). Gunanya untuk membandingkan hasil fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon dengan tempe kedelai yang memang sudah umum dikonsumsi.

Proses fermentasi Saga Adenanthera pavonina berhasil terjadi dalam
waktu 36 jam yang ditunjukkan dengan terjadinya kekompakan (menyatunya hifa
jamur Rhizopus oryzae dengan biji Saga Adenanthera pavonina). Dari hasil pengujian kandungan gizi protein terhadap tempe Saga dengan menggunakan metode titrasi formol maka didapatkan hasil kandungan protein tempe saga yang sangat besar.

Setelah melakukan eksperimen fermentasi Rhizopus oryzae terhadap biji Saga pohon, maka perlu dilakukan studi komparatif dan tes organoleptik untuk lebih membuktikan kandungan gizi dan rasa dari tempe Saga. Untuk tes organoleptik, penulis meminta beberapa orang untuk menjadi responden dengan merasakan tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, kemudian ditanya responnya.

Dari 13 orang responden, yang mengatakan bahwa tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai sebanyak 11 orang. Sedangkan sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, dan sebanyak 5 orang berpendapat bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai. Namun, sebanyak 10 orang mengatakan bahwa tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai.

Setelah  tempe hasil fermentasi dari biji Saga pohon jadi, selanjutnya dilakukan studi komparatif kandungan protein dan tes organoleptik. Dalam studi komparatif kandungan kadar protein yang dibandingkan adalah waktu, warna, dan persentase protein. Sedangkan dalam tes organoleptik, penulis meminta orang lain sebagai responden untuk mencicipi tempe goreng hasil fermentasi dari biji Saga pohon tersebut, dan mencatat pendapat mereka kemudian menyimpulkannya.

KESIMPULAN DAN SARAN

A.Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah penulis lakukan selama proses pembuatan tempe dari fermentasi biji Saga pohon oleh Rhizopus oryzae, maka penulis dapat menyimpulkannya sebagai berikut :

  • Prosedur proses fermentasi biji Saga pohon
  1. Karena kulit biji Saga pohon yang keras dan dilapisi oleh lilin sehingga bijinya kedap terhadap air, maka dalam proses perendaman dan perebusan serta pengukusannya dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan proses pembuatan tempe dari kacang kedelai.
  2. Biji Saga pohon memiliki warna yang sama dengan kacang kedelai  yaitu berwarna coklat setelah melewati proses perebusan.
  3. Bau biji Saga pohon lebih menyengat dibandingkan dengan kacang  kedelai.
  4. Namun, dalam masalah rasa biji Saga pohon tidak kalah dengan  kacang kedelai dan lebih lembut.a
  5. Bentuk biji Saga pohon terlihat agak gepeng dan lebih besar dibandingkan dengan kacang kedelai yang mempunyai biji lebih kecil dan bulat.
  • Pada saat fermentasi tempe Saga.
  1. Dalam waktu 12 jam dan 24 jam, belum terjadinya penyatuan hifa-hifa jamur dengan biji Saga pohon. Namun, setelah jam-jam berikutnya terjadi kekompakan hifa dengan biji Saga pohon. Fermentasi biji Saga pohon dengan Rhizopus oryzae berhasil terjadi.
  2. Waktu selesai terbentuknya tempe dari biji Saga pohon relatif sama dengan waktu selesainya tempe dari kedelai yaitu 36 jam.a
  • Kelebihan tempe Saga dibandingkan tempe dari kedelai.
  1. Tempe dari biji Saga pohon lebih lembut daripada tempe dari kedelai.
  2. Tempe Saga tidak cepat menjadi tempe busuk dan dapat disimpan  selama 2 minggu di dalam lemari es.
  3. Daya tahan biji Saga pohon jauh lebih kuat dan tahan lama dari biji kedelai karena bij Saga pohon dilindungi oleh kulit yang keras dan kedap air.
  • Pengujian nilai gizi dan pengujian Organoleptik
  1. Setelah dilakukan pengujian kandungan kadar protein, ternyata tempe Saga memiliki kandungan kadar protein yang cukup tinggi di dalamnya yaitu sekitar 22,41%. Sedangkan pada tempe kedelai hanya memiliki kandungan kadar protein sebanyak 18%.
  2. Dalam pengujian organoleptik secara kuantitatif, didapatkan hasil bahwa sebanyak 84,6% responden mengatakan tempe Saga lebih lembut daripada tempe kedelai, sebanyak 76,9% responden mengatakan tempe Saga memiliki rasa yang enak atau unik daripada tempe kedelai, sebanyak 38,46% responden mengatakan bahwa tempe Saga memiliki rasa yang sama seperti tempe kedelai, dan sebanyak 76,9% responden mengatakan tempe Saga memiliki bau yang langu atau bau yang lebih menyengat daripada tempe kedelai.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut.

  1. Sebaiknya pembudidayaan Saga pohon (Adenanthera pavonina) di Indonesia lebih ditingkatkan karena Saga pohon dapat dijadikan bahan alternatif pembuatan tempe yang kandungan proteinnya tidak kalah dengan kedelai.
  2. Hendaknya masyarakat lebih dikenalkan dengan tempe Saga, sehingga minat  konsumsi masyarakat menjadi lebih baik terhadap tempe Saga.
  3. Pemanfaatan lahan kritis dengan menanam pohon SagaAdenanthera  pavonina sebagai sumber pangan potensial.
  4. Mengurangi sistem pertanian monokultur yang membahayakan ekosistem  lingkungan hidup dan membutuhkan biaya yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Arnoldus Yunanta WN, Frederikus Tunjung Seta. 2009. Pedoman Penyajian Karya Ilmiah.Semarang:Undippr.http://abacus.bates.edu/~ganderso/biology/resources/writing/HTWgeneral.html

Buller H, Hoggart K. 1994a. fermentation Rhizopus oryzaeto influence Glycine max. New England J Med 256(6): 335-339.

Cahyadi, Wisnu. 2007. Kedelai Khasiat dan Teknologi. Jakarta : Bumi Aksara.hlm 56-68.

http://id.wikipedia.org/wiki/Saga_pohon

 

Lyrics “Locked Out Of Heaven” by Bruno Mars


one, two, one, two, three

oh yeah yeah
oh yeah yeah yeah
ooh!
oh yeah yeah
oh yeah yeah yeah
ooh!

never had much faith in love or miracles
never wanna put my heart on the line
but swimming in your water is something spiritual
i’m born again every time you spend the night

cause your sex takes me to paradise
yeah your sex takes me to paradise
and it shows, yeah, yeah, yeah
cause you make me feel like, i’ve been locked out of heaven
for too long, for too long
yeah you make me feel like, i’ve been locked out of heaven
for too long, for too long

oh yeah yeah yeah
ooh!
oh yeah yeah

oh yeah yeah yeah
ooh!

you bring me to my knees
you make me testify
you can make a sinner change his ways
open up your gates cause i can’t wait to see the light
and right there is where i wanna stay

cause your sex takes me to paradise
yeah your sex takes me to paradise
and it shows, yeah, yeah, yeah
cause you make me feel like, i’ve been locked out of heaven
for too long, for too long
yeah you make me feel like, i’ve been locked out of heaven
for too long, for too long

oh oh oh oh, yeah, yeah, yeah

for too long, for too long
yeah you make me feel like, i've been locked out of heaven
for too long, for too long

oh yeah yeah yeah
ooh!
oh yeah yeah
oh yeah yeah yeah
ooh!
can i just stay here
spend the rest of my days here
oh oh oh oh, yeah, yeah, yeah
can’t i just stay here
spend the rest of my days here

cause you make me feel like, i’ve been locked out of heaven